04 April 2025

Get In Touch

Kopi Wine Lahir dari Kegundahan Hati

Kopi Wine Lahir dari Kegundahan Hati

Surabaya - Siapa yang tidak kenal dengan kopi. Bijian yangdijadikan minuman ini sudah sangat mendunia. Bahkan bagi penggemarnya, kopi bisamenjadi candu, sehari saja tanpa kopi, hidup mereka serasa ada yang kurang. Bagipara pecintanya, kopi punya filosofi tersendiri bagi kehidupan mereka. Kopi mempunyaicita rasa dan kelasnya berdasarkan dari proses pembuatannya. Filosofi itu bisamuncul dari prosesnya, apakah kopi dijadikan sebagai minuman sederhana atauminuman berkelas dengan cita rasa dan sentuhan seni yang tinggi seperti di café–café, semua tergantung dari prosesnya.

Dari sinilah akhirnya Agus Dono Wibawanto mempunyai ideuntuk memunculkan sebuah kopi varian baru yaitu kopi wine. Idenya juga berawalketika ia duduk di Komisi B DPRD Provinsi Jatim periode lalu, saat  melaksanakan reses dan mendapatkan banyakkeluhan dari masyarakat. Diantaranya adalah keluhan soal harga dan melimpahnyakopi.

Untuk membantu masyarakat, Agus Dono membeli kopi-kopi dari parapetani dengan harga lebih tinggi dari harga pasar ketika itu. Namun, setelahkopi terkumpul banyak, Agus malah menjadi bingung mau dikemanakan kopi kopi itu.Agus Dono pun mencari berbagai referensi dan akhirnya menemukan ide untukmenciptakan kopi wine dan beberapa jenis kopi lainnya.

Kopi wine, namanya terdengar unik, mengingatkan pada nama minumanberalkohol yang merupakan hasil fermentasi buah.  Di dunia minuman, wine termasuk minuman berkelasyang harganya bisa cukup mahal.

Kopi wine, jangan berfikiran dulu jika kopi ini adalah kopi yang mengandung alkohol. Kopi ini sama sekali tidak mengandung alkohol dan tidak membuat para penikmatnya mabuk kepayang seperti setelah minum minuman beralkohol. Kopi wine adalah kopi yang proses pembuatannya dengan cara fermentasi seperti layaknya membuat wine. “Hanya prosesnya saja, seperti proses pembuatan wine yaitu melalui fermentasi, sehingga kopi ini diberi nama kopi wine. Awalnya saya ingin menyebutnya dengan kopi anggur, tapi nama anggur kurang gereget,” kata Agus Dono, sang pencipta kopi wine.

Agus Dono yang saat ini  berada di Komisi C DPRD Provinsi Jatim mengatakan bahwa kopi wine memiliki cita rasa yang sangat tinggi dan tidak kalah dengan kopi lainnya termasuk kopi luwak. Pembuatan kopi wine juga melalui proses yang cukup panjang, bisa memakan waktu tiga bulan lebih. “Prosesnya cukup panjang dan ribet,” katanya.

Proses dimulai dari pemilihan buah kopi yang masih berbentukcerry. Buah kopi yang dipilih adalah buah yang kulitnya sudah benar-benarmerah. “Kulit kopi itukan mengandung glukosa, dari kulit kopi ini kemudian difermentasikan,”jelas politisi dari Malang ini. Dia menambahkan, ada tiga jenis kopi yangdigunakan untuk kopi wine ini, yaitu Arabica, delebrica dan robusta.

Kemudian, buah kopi yang masih ada kulitnya ini dijemur, setelahitu dimasukkan dalam kantong plastik sampai terjadi fermentasi dari kulitnya. Setelah terjadi proses fermentasi, kopidikeluarkan dan ditiriskan selama sehari. Keesokan hari, kopi kembalidimasukkan ke dalam kantong plastik untuk menjalani proses fermentasi lagi. Begituterus dilakukan hingga tiga bulan lamanya.

Proses fermentasi itu juga akan berbeda ketika kulit kopinya lebih tipis, sebab tidak bisa sebagus kopi yag kulitnya tebal. Jika kulitnya tipis, maka perlu dicuci dan dalam kondisi basah dilakukan proses fermentasi seperti diatas. “Ini prosesnya juga beda dan agak lebih rumit,” tandas Agus Dono.

Setelah proses fermentasi selesai, kemudian dilakukanpemisahan antara kopi dengan kulit kopi yang terfermentasi tadi. Dari situlah barudilakukan pengeringan terhadap biji kopi. Proses penggorengan juga dilakukansecara khusus dengan menggunakan suhu hingga 200 ° C. Demikian juga dengan proses penghalusankopi. “Ada yang minta kopi halus ada yang minta agak kasar, sesuai denganpermintaan,” katanya.

Nah, dari proses yang cukup panjang itu menghasilkan kopi yang bercita rasa tinggi. “Banyak orang punya kopi, ada kopi lanang, kopi fermentasi, dan kopi luwak, terus kita ujikan dipertadingan di Malang Kabupaten,  itu rata-rata terenak punya kita,” tandasnya sambil menambahkan bahwa begitu bungkus kopi wine dibuka, maka aromanya langsung keluar, aroma wangi dari fermentasinya.

Perjalanan proses pembuatan kopi wine yang cukup panjang ini serasa terbayar dengan kualitas yang langsung disambut antusias oleh pasar. Saat Agus Dono sudah menerima permintaan dari Malaysia dan China. Mereka sudah meminta penetapan harga dan bahkan sudah tidak sabar untuk segera bisa memasarkan kopi wine di Negara itu.

Kalau yang di Malaysia, lanjut Agus Dono, meminta merek sesuai dengan merek aslinya. Sedangkan yang China meminta dalam bentuk kosong tanpa merek, mereka akan membuat dengan merek mereka. “Saya belum bisa menetapkan harga untuk mereka, ini saya belum pulang, baru dari umroh,” katanya saat ditemui di DPRD Provinsi Jatim.

Lantas bagaimana dengan permintaan dari dalam negeri, Agus mengatakan, saat ini kopi wine sudah dipasarkan di tingkat lokal. Antusias para pecinta kopi lokal juga terbilang cukup bagus, bahkan di antara mereka ada yang menanyakan kenapa belum ada café khusus menjual kopi wine atau jenis jenis kopi lagi hasil ciptaan Agus Dono dengan merek Don Kope ini.

Lantas bagaimana dengan harga?. Kopi wine ternyata tidak semahal kopi luwak meski prosesnya juga cukup panjang. Di pasar lokal kopi luak untuk 100 gram bisa seharga Rp 210 ribu. Sedangkan untuk kopi wine cuma jual Rp 50 ribu. Kalau satu gelas kopi luwak jual Rp 50 ribu, saya jual Rp 25 ribu. “Memang niat awal saya bukan komersil tapi untuk mengedukasi bukan menjualnya,” jelasnya.

“Sebenarnya saya masih punya beberapa varian kopi lainnya,diantaranya ada kopi bajing,” katanya.

Perbedaan antar kopi wine dengan kopi bajing adalah pada prosesnya, jika kopi wine prosesnya melalui fermentasi dengan tangan manusia, tapi kalau kopi bajing menggunakan perantaran hewan bajing. Agus Dono menjelaskan, prosesnya pun berbeda dengan kopi luwak dimana biji kopi dimakan lalu keluarkan melalui kotoran. Sedangkan kopi bajing tidak sampai keluarkan, namun melalui proses gigitan bajing.

“Hasil yang dibuat bajing tadi cukup luar biasa, diujikan DiBalai Tanaman Jember sekornya 83,75, tertinggi dan special, itu enak sekali danitu langka, dalam setahun satu ton pun susah, jenis kopinya bisa arabica, deleberikadan robusta. Itu perlakuan dari binatang,” tandasnya.

Agus Dono berharap nantinya akan melakukan edukasi untukkelanjutan produksi kopi tersebut. Edukasi dilakukan mulai dari bagaimanaproses awalnya hingga proses menyajian kopi untuk dihidangkan ke para penikmatkopi. (ufi)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.