Pertemuan Ilmiah Tahunan HIPPII Tekankan Kontrol dan Pengendalian Infeksi Wajib Standar WHO

BANDUNG (Lenteratoday) – Kompetensi IPCN (Infection Prevention Control Nurse=Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi) di sebuah fasilitas kesehatan menjadi bahasan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT tahun 2024 yang berlangsung di Hotel Savoy Homann, Bandung, 6-7 September 2024.
Dihadiri lebih dari 217 IPCN seluruh wilayah Indonesia yang tergabung dalam Himpunan Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi Indonesia (HIPPII ) kegiatan PIT 2024 juga menggelar seminar dan workshop nasional. IPCN yang hadir antara lain dari; Jabodetabek, Sumatra, Sulawesi, Jawa, Kalimantan dan Maluku
Workshop yang digelar mengusung tema Infection Control For Safety and Quality mengacu pada Core Competency WHO ( World Health Organization) siap menjadi mitra bestari uji kompetensi IPCN ( Infection Prevention Control Nurse ) di Fasilitas Kesehatan seluruh Indonesia
Selain itu juga diadakan lomba membuat Abstrak ( ringkasan singkat karya tulis ilmiah ) dan Storyboard ( representasi visual quality improvement pencegahan dan pengendalian infeksi/ PPI)
Menuruit Ketua Panitia PIT, Ns. Djubaidah, Skep., MKep, sesuai WHO, Core Competency IPCN adalah kompetensi inti perawat pencegah dan pengendali infeksi yang secara profesional memiliki kemampuan yang bersertifikat keahlian.
Seorang IPCN atau perawat pengendali infeksi dalam penerapannya di Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus sesuai Mutu dan Keselamatan Pasien sesuai Undang Undang Kesehatan No.17/2023 dan STARKES ( Standart Akreditasi Rumah Sakit )
“Saya mengapresiasi atas dukungan yang luar biasa dari seluruh peserta. Setidaknya 217 IPCN yang hadir dari seluruh Indonesia, ada yang dari Jabodetabek, Sumatra, Sulawesi, Jawa, Kalimantan dan Maluku, sangat luar biasa.” ujar Djubaidah saat memberikan sambutan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua DPP Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia(PPNI), Dr. Hanif Fadilah, Skp., SH., MKep., MM saat membuka acara, menyampaikan PPNI sebagai induk organisasi sangat apresiasi dimana HIPPII yang tersebar sebanyak 27 cabang di Indonesia mempunyai budaya ilmiah
“ Saya sangat apresiasi HIPPII yang tersebar sebanyak 27 cabang di Indonesia mempunyai budaya ilmiah dari kumpulan masyarakat ilmiah yang setiap tahun melaksanakan PIT,” ujarnya
Dipaparkan, masyarakat HIPPII adalah kumpulan orang-orang ilmiah yang selalu stimulasi lingkungan sekitar untuk meningkatkan kompetensi keilmuan sesuai profesionalisme. Melalui PIT, sertifikasi dan penjenjangan yang dilakukan HIPPII sangat bermanfaat untuk pengembangan diri dan diakui secara internasional. “Kita dapat diskusi terkait Core Competency IPCN dari WHO.” tambahnya
Sementara Ketua HIPPII Pusat, Dr. Elis Puji Utami, Skep., Ns., MPH., FISQua mengatakan diperlukan komitmen besar dari kita semua dan berkontribusi dalam pengembangan PPI berorientasi pada mutu untuk meningkatkan keselamatan pasien di fasilitas Kesehatan.
Dalam penyampaian materi tentang Peran HIPPII dalam melaksanakan persiapan jenjang karir dan assessmen kompetensi IPCN sesuai regulasi nasional, Elis berterima kasih pada HIPPII Jatim yang menginisiasi kredensial IPCN
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada HIPPII Jatim yang menginisiasi, mengawali uji kompetensi IPCN di Jawa Timur. Lebih dari 14 IPCN Jawa Timur yang lulus paripurna dan mendapat penghargaan luar biasa dari masing-masing RS terkait
Sebanyak 16 pengurus HIPPII Jatim menghadiri kegiatan PIT di Bandung ini. Rombongan dipimpin langsung Ketua HIPPII Jatim, Bernadetta Indah Mustikawati,AMD.Kep., SKM., MKes., FISQua., CHEA.
Ditemui secara terpisah, perempuan yang akrab disapa Bu Detta ini berpesan agar uji kompetensi IPCN yang sudah di generalisir di HIPPII Pusat dapat serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia untuk meningkatkan profesionalisme IPCN dan benar-benar diakui sebagai perawat ahli kekhususan di bidang pencegahan infeksi.
Di Pertemuan Ilmiah inipun, Bu Detta juga tidak luput sebagai narasumber pamungkas di hari pertama materi yang sarat ilmu untuk IPCN yaitu Penerapan Program PPI, Multi Modal Strategi dan diberondong banyak pertanyaan antusias peserta
“Prinsip PPI adalah menurunkan angka infeksi RS dan resistensi antibiotic berdasarkan data Evidence Based RS dan melakukan quality improvement melalui strategi multi modal yang harus dilakukan IPCN yang kompeten bekerjasama dengan multidisiplin lainnya. Pasti akan ada perbaikan mutu yang bermakna,” ujarnya. (*)
Reporter: Santi Andriana | Editor : Lutfiyu Handi