03 April 2025

Get In Touch

Talkshow Dinkes & KWG: Penyebab Stunting Tidak Melulu Kemiskinan

Talk Show “Strategi Penurunan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Stunting Melalui Pendekatan Integrasi Layanan Primer di Kabupaten Gresik” oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik dan Komunitas Wartawan Gresik (KWG), di Gresik, Jawa Timur, Senin (30/9
Talk Show “Strategi Penurunan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Stunting Melalui Pendekatan Integrasi Layanan Primer di Kabupaten Gresik” oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik dan Komunitas Wartawan Gresik (KWG), di Gresik, Jawa Timur, Senin (30/9

GRESIK (Lenteratoday) - Penyebab Stunting tidak melulu kemiskinan. Tidak jarang anak orang kaya yang tidak mendapatkan perhatian orang tua juga menderita stunting. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD Kabupaten Gresik, Lutfi Dawam dalam acara Talk Show “Strategi Penurunan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Stunting Melalui Pendekatan Integrasi Layanan Primer di Kabupaten Gresik” oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik dan Komunitas Wartawan Gresik (KWG), di Gresik, Jawa Timur, Senin (30/9/2024).

"Banyak anak orang kaya kena stunting, karena kesibukan orang tua membuat anaknya tidak terurus dengan baik. Contohnya tidak jarang anak orang kaya dititipkan ke pembantu. Ketika dibelikan susu orang tua seharga Rp 1 juta susu tersebut dijual pembantu dan dibelikan susu lain. Makanan anak tidak mengandung gizi berimbang," ujarnya mencontohkan.

Sementara di Bawean, Ia juga mengungkapkan, banyaknya stunting karena orang tua tidak paham pola asuh anak dengan baik. "Karena itu, saya minta Kepala UPT Puskesmas, perawat, bidan turun berikan penyuluhan, beri pendampingan, jangan duduk di kantor saja," sebutnya.

Di tempat yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Gresik, Aminatun Habibah menyebut banyak faktor penyebab Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan stunting. Salah satunya faktor kemiskinan, dan banyaknya masyarakat tak bisa menjangkau layanan kesehatan. Selain itu, kata Bu Min (sapaan Aminatun Habibah), pendidikan masyarakat yang kurang baik, lingkungan kurang sehat juga berpengaruh terhadap AKI, AKB, dan sehat.

"Walau pemerintah telah menggelontorkan bantuan keluarga kena stunting, tapi tak mampu menangani jika variabel-variabel pendukung tidak dilakukan," tuturnya.

Bu Min minta petugas Puskesmas, baik kepala UPT maupun perawat untuk turun lakukan sosialisasi, pendampingan kepada masyarakat untuk mencegah dan mengurangi AKI, AKB, dan stunting.

"Tenaga kesehatan terbesar kedua setelah guru, Di jantung-jantung permukiman masyarakat banyak ditemui stunting. Silahkan turun lakukan sosialisasi, dan pendampingan," katanya.

Ia juga mengajak insan wartawan membantu pemerintah memberikan edukasi kepada masyarakat dan kontrol kepada puskesmas melalui pemberitaan agar pelayanan terus diperbaiki.

Sementara itu, Kepala Dinkes Gresik, Mukhibatul Khusnah, menambahkan pihaknya telah berupaya maksimal dalam menekan angka AKI, AKB dan stunting, seperti  mengajak ibu hamil untuk memeriksa kandungan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) sesuai usia kehamilan trimester dengan ANC terstandar (10T).

Soal anggaran, dia megakui bahwa anggaran dari APBD belum mencakup semua kebutuhan. Karena itu, Dinkes Gresik mendapatkan alokasi dari sejumlah sumber pendanaan untuk penangan AKI, AKB dan stunting, di antaranya dari Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), dan Dana Desa (DD).

"Kita juga menggandeng pihak ketiga sebagai bapak asuh, misal gandeng perusahaan, alhamdulilah jalan," ucapnya.

Meski AKI dan AKB trennya naik, Khusnah menyebut stunting turun, yang mana bisa dilihat dari 3 tahun terakhir. Salah satu upaya dilakukan pemerintah dengan program Gresik Urus Stunting (GUS), lalu pada tahun ini tercatat balita stunting sebanyak 3.362, balita sembuh 5.719, dan balita lulus 2.876.

"Alhamdulillah trend kasus stunting di Kabupaten Gresik terus turun. Jika tahun 2021 berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) turun sebesar 12,8% dari 23,5%, di tahun 2021 menjadi 10,7% tahun 2022. Tahun 2023 9,4 persen. Target kami tahun 2024 turun dibawah 1 digit atau dibawah 10 persen. Lebih rendah dari Jawa Timur dan nasional yang ditargetkan 14 persen," pungkasnya. (Asepta/ADV)

Editor:widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.