03 April 2025

Get In Touch

Langkah Terarah Wujudkan Kesetaraan Akses Kesehatan di Surabaya

Kondisi RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya. (Amanah/Lenteratoday)
Kondisi RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya. (Amanah/Lenteratoday)

SURABAYA (Lenteratoday) - Choiriyah, warga Margorukun nampak begitu lega usai menjalani kontrol kesehatan bulanan di poli jantung RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya. Pasalnya, ia tak perlu menunggu terlalu lama, namanya langsung dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di ruangan dokter.

Perempuan 49 tahun ini mengaku, jika saat ini pelayanan di rumah sakit milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu sudah cukup baik, bahkan perkembangan positif itu dilihatnya terjadi dari tahun ke tahun.

Apalagi semenjak pendaftaran bisa dilakukan secara online. Sehingga ia bisa mengetahui pukul berapa bisa datang ke rumah sakit agar tidak perlu menunggu. 

"Kebetulan selama 1 tahun belakangan saya memang rutin kontrol di poli jantung. Apalagi sekarang antreannya juga tidak terlalu lama. Karena kalau kita daftar online itu kan kita sudah tahu dengan nomor itu, estimasi datang jam berapa. Jadi enggak perlu nunggu lama-lama," ucapnya, Kamis (7/11/2024).

"Jadi setelah sampai rumah sakit, kita datang ke loket pendaftaran, nanti langsung ditunjukkan ke poli masing-masing," tambahnya.

Begitulah kondisi pelayanan di RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya selama dua tahun terakhir yang telah mengalami banyak peningkatan. Terlebih, usai mendapat teguran dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pada November 2022 lalu.

Saat itu, Eri tengah melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan mendapatkan laporan dari masyarakat terkait pelayanan kepada pasien yang lama dan berkas-berkas yang amburadul.

Seperti diketahui, rumah sakit yang berlokasi di Jalan Tambak Rejo nomor 45-47 Surabaya merupakan salah satu rumah sakit jujukan warga Kota Pahlawan untuk berobat.

RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya. (Amanah/Lenteratoday)

Selain di RSUD Dr. M. Soewandhie, Pemkot Surabaya juga memiliki RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) yang berlokasi di jalan Kendung nomor 115-117, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo.

Rumah sakit kedua milik Pemkot Surabaya yang diresmikan pada 26 Agustus 2010 ini, guna memberikan layanan kesehatan yang merata bagi masyarakat khususnya di Surabaya barat.

"Alhamdulillah, sejak ada rumah sakit yang lokasinya di dekat rumah kalau mau kontrol jadi lebih dekat. Dan ketika ada keadaan darurat bisa langsung datang," kata Nurdiana, salah satu warga yang tinggal di kawasan Kendung ini.

Perempuan yang akrab disapa Diana ini mengaku, sebelum ada RSUD BDH, ia biasanya melakukan pemeriksaan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Di mana rumah sakit tersebut dibawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 

"Dulu kalau sakit pasti larinya ke Soetomo, karena kan rumah sakit besar. Saat ini kalau kontrol gitu ya ke BDH saja. Selain lebih dekat, pelayanannya juga udah bagus," tuturnya.

RSUD Eka Candrarini, rumah sakit baru milik Pemkot Surabaya yang berlokasi di Surabaya Timur. (Amanah/Lenteratoday)

Komitmen Pemerataan Kesehatan

Sebagai wujud komitmen dalam pemerataan layanan kesehatan bagi warga Surabaya, Pemkot kembali membangun rumah sakit yang diberi nama RSUD Eka Candrarini atau dikenal RSUD Surabaya Timur.

Rumah sakit yang berlokasi di Jalan Medokan Asri Tengah, Blok RL V, Kelurahan Kalirungkut ini melengkapi keberadaan dua rumah sakit sebelumnya, yakni RSUD Dr. M Soewandhie dan RSUD BDH.

Selain itu, rumah sakit tersebut juga diharapkan bisa mengurai antrean panjang dua rumah sakit milik pemkot yang sudah ada.

"Kami (pemkot) dengan DPRD memiliki visi yang sama untuk membangun kesehatan Surabaya, maka kami mendirikan Rumah Sakit Surabaya Timur. Sehingga ada pemerataan dalam pelayanan kesehatan di Kota Surabaya," kata Wali Kota Eri Cahyadi saat peletakkan batu pertama pembangunan rumah sakit.

Eri mengatakan, dengan berdirinya RSUD Surabaya Timur, pemkot bisa memberikan pelayanan kesehatan lebih maksimal kepada masyarakat. Bahkan RSUD Surabaya Timur ini memiliki layanan unggulan untuk Ibu dan Anak.

Layanan tersebut di antaranya layanan spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), vertilitas hingga layanan untuk ibu dan anak yang menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

"Nanti di Rumah Sakit Surabaya Timur kami lebih utamakan untuk ibu dan anak, tapi tetap untuk semua penyakit juga bisa dilayani. Dan rumah sakit ini ditargetkan tahun depan selesai, sehingga bisa dinikmati dan digunakan untuk melayani warga Surabaya," tuturnya 

Ia pun berharap pembangunan RSUD Surabaya Timur ini bisa bermanfaat untuk umat warga Surabaya.

"Insyaallah warga Surabaya kalau berobat nanti tidak hanya terfokus di RSUD BDH dan RSUD Dr. M. Soewandhie. Jadi ada pilihan di Rumah Sakit Surabaya Timur. Semoga dengan rumah sakit ini pelayanan kesehatan di Surabaya lebih maksimal," harapnya.

Adanya pembangunan RSUD Surabaya Timur ini pun disambut baik oleh Natasya, warga Kedung Baruk Surabaya.

Menurutnya, adanya rumah sakit tersebut memudahkan warga di Surabaya Timur dalam mendapatkan akses pelayanan kssehatan.

"Tentunya aksesnya lebih mudah, kalau ada keadaan darurat lebih dekat juga. Apalagi akses jalannya juga enggak sulit. karena biasanya kalau periksa gitu di rumah sakit swasta. Dari segi biaya juga mahal. Nah kalau ada rumah sakit milik pemkot kan enak, selain lebih dekat untuk pelayanannya lebih mudah.  Semoga aja pelayanannya juga lebih cepat dengan fasilitas yang ada," harapnya.

Diketahui, RSUD Surabaya Timur direncanakan mulai beroperasi pada November 2024 secara bertahap.

Selain RSUD Surabaya Timur, Pemkot Surabaya juga berencana membangun dua rumah sakit baru pada 2025 mendatang.

Penambahan dua rumah sakit yang bertujuan untuk pemerataan pelayanan kesehatan ini rencananya akan dibangun di wilayah Surabaya selatan dan Surabaya utara atau eks Rumah Sakit Lapangan Tembak.
 
"Tahun depan kita akan membangun lagi dua rumah sakit, di wilayah Surabaya selatan dan yang ada di Surabaya utara," kata Eri, Rabu (26/6/2024).
 
Ia menjelaskan, penambahan dua rumah sakit ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan. Sebab, saat ini RSUD Dr. M. Soewandhie maupun RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) menghadapi jumlah pasien yang sangat tinggi.
 
Pihaknya mencatat, lebih dari 2000 pasien setiap harinya berobat ke Poli RSUD Dr. M. Soewandhie dan RSUD BDH Surabaya. "Seperti di RSUD Dr. M. Soewandhie itu di Poli-nya, sehari 2000 lebih, di RSUD BDH juga sama," jelasnya.
 
Eri memproyeksikan pembangunan RSUD Surabaya selatan dan utara, bisa dilakukan tahun 2025. Terlebih, pembangunan gedung RSUD Surabaya utara atau eks Rumah Sakit Lapangan Tembak, hanya tinggal pengembangan.
 
"Kalau Rumah Sakit Lapangan Tembak (Surabaya Utara) tinggal pengembangan saja dari bentuk (bangunan) yang sudah ada. Tapi yang (RSUD Surabaya) selatan memang dari nol," sebutnya.

Untuk itu, dengan penambahan dua RSUD baru nanti, diharapkan beban pelayanan kesehatan di RSUD dapat terbagi. Sehingga masing-masing rumah sakit bisa melayani sekitar 500 pasien per hari.
 
"Sehingga pelayanan kesehatan kita bisa lebih maksimal lagi. Karena tidak ada hadirnya pemerintah kecuali memberikan yang terbaik untuk masyarakat," tukasnya.

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Johari Mustawan. (Amanah/Lenteratoday)

DPRD Beri Apresiasi

Upaya Pemkot Surabaya untuk memberikan layanan kesehatan yang merata dan mudah diakses oleh warga mendapatkan apresisi dari anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan.

"Kami mengapresiasi adanya rencana pemkot untuk kembali membangun rumah sakit Surabaya Timur, kawasan selatan dan utara. Yang penting adalah bagaimana rumah sakit itu betul-betul menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses oleh warga Surabaya dan memberikan dampak umur harapan hidup yang lebih panjang bagi warga Surabaya, serta juga bagaimana kemudahan warga Kota Surabaya dalam mengakses layanan kesehatan," tuturnya.

Tak hanya itu, ia juga memberikan beberapa masukan kepada pemkot agar layanan kesehatan di Surabaya lebih merata dan berdampak bagi warga.

Dalam hal ini, Pemkot harus proaktif mengutus para tenaga kesehatan (nakes) dengan RW dan RT untuk  membuat masyarakat itu tidak menunggu sakit terlebih dahulu dengan melakukan pola hidup sehat.

"Prinsipnya kalau di Surabaya kami melihat bahwa pelayanan kesehatan di Kota Surabaya, dari Pemkot dan bekerjasama dengan BPJS itu sudah terkoordinasi dengan baik. Bahkan di Surabaya sudah UHC (Universal Health Coverage). Artinya tidak boleh satupun warga Kota Surabaya tidak mendapatkan layanan kesehatan yang tidak baik di Kota Surabaya ini. Sehingga dengan cukup membawa KTP dipastikan, warga Surabaya bisa mendapat layanan kesehatan yang baik," ucapnya.

Ia juga berharap, RSUD Surabaya Timur dapat segera beroperasi dan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat.

"Karena pembangunan rumah sakit itu kan 360 hari, dan saat ini sudah lebih dari 360 hari. Sehingga harapan kita bisa segera dioperasionalkan Rumah sakit Surabaya Timur, karena targetnya kan Oktober 2024, dan sekarang sudah lewat," tukasnya. (*)

Reporter: Amanah | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.