04 April 2025

Get In Touch

BPBD Kota Malang Bentuk Tim Reaksi Cepat dan Peta Wilayah Rawan untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Tim reaksi cepat Kota Malang dalam menangani salah satu dampak bencana hidrometeorologi, pohon tumbang di Kecamatan Klojen. (dok. BPBD Kota Malang)
Tim reaksi cepat Kota Malang dalam menangani salah satu dampak bencana hidrometeorologi, pohon tumbang di Kecamatan Klojen. (dok. BPBD Kota Malang)

MALANG (Lenteratoday) - Menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di musim hujan, BPBD Kota Malang tengah menggencarkan berbagai langkah mitigasi. Salah satunya dengan membentuk tim reaksi cepat lintas sektor serta penyusunan peta wilayah rawan bencana, yang mencakup daerah-daerah berisiko tinggi banjir dan longsor.

"Mitigasi saat ini terus dilakukan oleh komponen masyarakat sampai ke kepala wilayah, saat ini sedang kami siapkan Peta Rawan Risiko Bencana insyaAllah akhir November nanti sudah selesai. Sehingga mulai dari camat dan lurah itu, punya peta rawan," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, Jumat(15/11/2024).

Prayitno menjelaskan peta rawan risiko bencana ini akan memberikan gambaran detail, terkait wilayah bahkan lokasi rumah-rumah warga yang berada di zona rawan.

"Jadi rumah yang pasti terdampak itu bisa terpetakan, di RT sekian ada berapa rumah, di RW sekian berapa rumah sehingga di kewilayahan punya peta untuk menyalurkan logistik ke tempat pengungsian yang terarah," jelasnya.

Prayitno menambahkan BPBD juga telah menyiapkan personel reaksi cepat, yang terdiri dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi lain untuk memperkuat upaya mitigasi ini.

Disebutkannya sebanyak 40 personel lintas sektor, yang meliputi anggota Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Kesehatan (Dinkes), TNI/Polri, serta OPD terkait lainnya, telah dilatih menjadi tim reaksi cepat (TRC). Hal ini bertujuan agar tanggap darurat bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD, tetapi juga melibatkan lebih banyak unsur pemerintah.

"Tugasnya strategis yakni mengasesmen, menilai kebencanaan itu seberapa parah sehingga nanti outputnya diketahui. Untuk kebutuhan peralatan dan personel yang dibutuhkan di setiap daerah yang terdampak bencana itu berapa saja," tambahnya.

Lebih lanjut, Prayitno menyampaikan berdasarkan rilis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena La Nina yang diprediksi akan datang pada musim hujan ini, diperkirakan meningkatkan curah hujan hingga 20-40 persen yang dapat memperbesar risiko bencana.

Untuk itu, pihaknya juga telah menaruh fokus pada wilayah-wilayah yang rawan banjir, seperti Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen.

"Termasuk juga kami selalu siap siagakan perahu landing craft rubber (LCR) yang khusus untuk di permukaan landai seperti di sungai. Kemudian ada juga perahu yang spesifikasinya untuk arung jeram, jadi kalau masuk ke wilayah perbatuan yang sempit itu masih bisa, fleksibel," tukasnya.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.