
LUMAJANG (Lenteratoday) -Warga Dusun Glendang Petung, Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terus hidup dalam ketakutan akan ancaman banjir lahar.
Ketakutan ini muncul setelah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mulai mengguyur wilayah Lumajang sejak pertengahan November 2024.
Hujan deras yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi memicu banjir lahar dari Gunung Semeru, yang akan mengalir melalui Sungai Regoyo yang berdekatan dengan permukiman warga.
Masalahnya, tanggul penahan air yang seharusnya melindungi permukiman dari banjir lahar telah jebol sejak 18 April 2024, dan hingga kini belum ada perbaikan yang dilakukan.
Adi Bing Slamet, salah seorang warga Gondoruso, mengungkapkan, berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat, mulai dari berkomunikasi dengan pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten, untuk mendesak perbaikan tanggul.
Namun, hingga saat ini, belum ada realisasi dari Pemerintah.
"Tidak ada penanganan, kami minta ini dibuatkan tanggul darurat.
Melihat cuaca buruk, kami warga Glendang Petung juga ketakutan karena tanggul ini jebol," kata Slamet di Lumajang, Minggu (24/11/2024).
"Tidak ada penanganan, kami minta ini dibuatkan tanggul darurat. Melihat cuaca buruk, kami warga Glendang Petung juga ketakutan karena tanggul ini jebol," tambah dia.
Kerusakan pada tanggul penahan air di Desa Gondoruso terhitung parah, dengan panjang tanggul yang rusak mencapai 275 meter.
Di balik tanggul tersebut terdapat ratusan hektar sawah dan permukiman warga. Sejak tanggul jebol, setidaknya 20 hektar sawah telah terdampak akibat banjir lahar.
Slamet juga menambahkan, laju air sungai mulai mengarah ke tepi tanggul yang jebol, meningkatkan kekhawatiran warga jika debit air meningkat saat terjadi banjir lahar.
"Airnya juga meripit ke tanggul yang jebol. Kalau ada air yang besar, pasti mengarah ke pertanian yang jumlahnya ratusan hektar di selatan tanggul jebol, termasuk pemukiman warga," mengutip Kompas.
"Yang jelas, warga terdampak sudah ada 20 hektar lahan pertanian. Ini kalau banjir lagi, bisa mencapai ratusan hektar," sambung dia.
Darmoko, warga lainnya, mengungkapkan, ketakutan akan banjir lahar membuat warga sulit beristirahat dengan tenang saat hujan turun.
"Secara psikologis, kalau hujan sedikit masyarakat tidak tenang. Mau lari ke mana, bingung. Apalagi kalau hujannya malam, pasti tidak bisa tidur karena takut banjir," ungkap Darmoko.
Ketua RT 2 Dusun Glendang Petung, Mohammad, mengonfirmasi keluhan warga dan mendesak agar tanggul segera dibangun.
Ia juga meminta dilakukan normalisasi aliran sungai agar air kembali mengalir ke tengah sungai, sehingga warga tidak perlu khawatir saat terjadi banjir lahar.
"Selalu itu (perbaikan tanggul) yang disampaikan warga dan juga normalisasi sungai, biar warga ini tidak khawatir lagi," cetus dia (*)
Editor: Arifin BH