
MALANG (Lenteratoday) - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang melanda pada tahun 2022 lalu, masih membekas di benak para peternak sapi di Kota Malang. Kini dengan meningkatnya kembali kasus PMK, beberapa peternak sapi di Kelurahan Purwantoro, Kota Malang berharap agar penanganan semakin masif untuk mencegah penyebarannya tidak meluas seperti 2 tahun lalu.
Salah satu peternak di Kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Suwadji mengaku bersyukur hingga saat ini 10 ekor sapi di kandangnya tidak terindikasi virus PMK.
"Sampai hari ini sapi ternak saya belum ada yang terjangkit, tetapi tetangga di sini sudah ada yang kena. Kalau sapi di kandang saya, yang punya saya 6, kemudian ada tetangga yang nitip 1, kemudian yang punya mertua ada 3 ekor," ujar Suwadji, Selasa(7/1/2025).
Suwadji mengakui meskipun belum ada vaksinasi dari Dispangtan di awal tahun 2025 ini, namun menurutnya Pemkot Malang telah memberikan vitamin, disinfektan serta melakukan pemantauan ke kandang-kandang sapi di wilayahnya.
"Kalau 2024 lalu masih ada. Biasanya kalau ada vaksin langsung dikabari, turun ke kandang. Ternak saya sudah divaksin semua, di sini (kampung Sanan) mayoritas sudah divaksin semua saat itu," katanya.
Tak hanya itu, untuk mencegah meluasnya PMK, Suwadji juga mengikuti imbauan dari Dispangtan Kota Malang untuk menunda pembelian sapi.
“Sekarang ini mau beli baru pun belum berani. Karena dari dinas juga mengimbau jangan beli baru dulu. Saya juga belum pernah menjual lagi sekarang ini. Biasanya kalau dipasarkan ke Pasar Singosari, tapi di sana infonya ada yang sudah kena PMK,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ia mengingat jelas bagaimana wabah PMK melanda Kampung Sanan 2 tahun lalu. Saat itu, menurutnya kasus pertama muncul di wilayah sebelah barat Sanan sebelum menyebar ke seluruh kampung.
Dikatakannya, banyak sapi menunjukkan gejala khas seperti napas berat, mulut berbusa, dan kuku lepas. Para peternak yang tidak mampu merawatnya terpaksa menjual sapi mereka dengan harga jauh di bawah rata-rata.
Meski demikian, ia menyadari situasi saat ini sedikit berbeda dibandingkan 2022. Menurutnya, gejala PMK kini lebih cepat terdeteksi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini.
“Kalau 2022 itu, begitu kena langsung hidung, mulut, sampai kuku. Sekarang lebih pelan-pelan, gejalanya langsung terlihat dan bisa ditangani,” katanya.
Terpisah, peternak lain di Kampung Sanan, mengaku sempat menemukan gejala PMK pada sapinya sebulan lalu.
“Mulutnya berbusa, hidungnya berlendir, dan kakinya luka seperti membusuk. Tapi karena sudah divaksin semua, daya tahan tubuhnya kuat, jadi cepat sembuh,” ujarnya.
Untuk meminimalkan risiko, dirinya tetap menjual sapi yang terkena gejala meskipun harus menanggung kerugian akibat harga jual yang turun.
“Kalau masih gejala, lebih baik langsung dijual. Memang harganya menurun, tapi lebih baik daripada mati,” imbuhnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais