
MALANG (Lenteratoday) - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) tengah menyelidiki video viral yang menunjukkan rombongan pendaki ilegal di Puncak Semeru. Jika ditemukan dan benar pendakian tersebut dilakukan melalui jalur ilegal, para pendaki terancam dibanned atau dilarang mendaki di seluruh kawasan gunung konservasi.
Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengungkapkan pihaknya telah memerintahkan tim lapangan untuk menelusuri lebih lanjut keberadaan pendaki tersebut, sekaligus memastikan jalur yang digunakan.
"Teman-teman sudah saya minta untuk mengecek lagi. Karena kebetulan kalau melihat rentang tanggalnya, pada hari itu petugas juga masih memperbaiki sarana meskipun pendakian ke Ranu Kumbolo sedang ditutup karena cuaca. Nah itu petugas kami tidak ketemu," ujar Rudi, Jumat (24/1/2025).
Untuk diketahui, jalur pendakian resmi ke Gunung Semeru, termasuk hingga Ranukumbolo, masih ditutup sejak 2 Januari hingga 8 Februari 2025 karena cuaca ekstrem. Menurut Rudi, hal inilah yang mengindikasikan para pendaki tersebut kemungkinan menggunakan jalur ilegal.
"Namanya ilegal, mungkin dia pakai bukan jalur umum. Tapi saya sudah minta agar teman-teman mencari, kalau sudah ketemu kami akan membanned orang itu. Dan tidak hanya di kami, kami akan mengkoordinasikan dengan teman-teman terutama yang ada di wilayah gunung konservasi," tegasnya.

Rudi menambahkan, pihaknya tidak dapat sepenuhnya mengawasi seluruh jalur ilegal karena area TNBTS yang sangat luas. Namun, masyarakat diminta untuk mematuhi aturan yang berlaku demi keselamatan bersama.
Menurutnya, terdapat risiko tinggi di jalur-jalur ilegal jika masyarakat tidak mau mengikuti aturan untuk mendaki dinjalur resmi yang telah ditentukan. "Ya, risikonya harus ditanggung sendiri," lanjut Rudi.
Sebagai informasi, dalam video yang diunggah oleh akun instagram jejakpendaki pada Rabu (22/1/2025) lalu, nampak 7 orang pendaki mengabadikan kegembiraan telah mencapai puncak Gunung Semeru.
Video tersebut juga berisi cuplikan foto para pendaki yang bertuliskan, "wedi risiko kui hanya untuk kaum lemah. Lah kene kaum sangar, ngeyelan, yo luwih seneng sing berbau tantangan ekstrim. (red-bahasa Malangan: Takut itu hanya untuk kaum lemah. Nah kami kaum sangar, ngeyelan, ya lebih suka dengan yang berbau tantangan, ekstrem). (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi