BISNIS karbon mencuat di dunia dan Indonesia karena perannya yang krusial dalam menangani perubahan iklim dan potensi ekonomi yang besar, mendorong perusahaan berinvestasi dalam inovasi rendah karbon dan mencapai target emisi nol bersih, sebagaimana terbukti dari peluncuran Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) pada 2023 dan transaksi internasional perdana pada 2025. IDXCarbon untuk mencapai target net zero emission 2060, dengan peraturan yang jelas dari pemerintah dan pertumbuhan aktivitas pengguna jasa. Peluang penjualan kredit karbon Indonesia didukung oleh potensi besar hutan, dukungan regulasi, dan investasi dari berbagai pihak yang melihat peluang finansial sekaligus dampak positif lingkungan. Maka, Pemerintah Indonesia akan menggali potensi perdagangan kredit karbon di Konferensi Perubahan Iklim Ke-30 (COP30) yang diadakan di Kota Belem, Brasil, dan beberapa negara sudah memperlihatkan ketertarikan untuk membeli karbon Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan Indonesia memiliki dua mekanisme pasar kredit karbon yakni pertama berbasis kepatuhan melalui perdagangan emisi (compliance-based through emission trading) dan pasar karbon berbasis sukarela (voluntary-based carbon market through). Nantinya, kredit karbon tersebut dijual dengan harapan mendapatkan pendapatan yang akan dimanfaatkan untuk mengurangi karbon global seperti perlindungan kawasan hutan, mangrove, gambut, coral reef, hingga padang lamun. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/28082025.pdf