TULUNGAGUNG (Lentera) - Ratusan siswa SMKN 3 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung mengalami diare massal, usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) dan Dinas Kesehatan setempat, langsung turun tangan melakukan penyelidikan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 3 Boyolangu, Yuga Hermawan mengatakan dugaan keracunan diketahui hari ini, setelah banyak siswa yang tidak masuk dan terlambat datang ke sekolah.
"Ketika kita tanya anak-anak alasannya terlambat ke sekolah, alasannya terlambat masuk kelas dan enggak mengikuti pelajaran itu karena BAB ke toilet," kata Yuga melansir detik.com, Selasa (20/1/2026).
Pihak sekolah mendapatkan laporan, jumlah siswa yang mengalami keluhan diare mencapai ratusan anak. Keluhan tersebut dialami para siswa sejak Senin malam.
"Terus anak-anak menginformasikan Pak, apa kemungkinan MBG. Karena kok sepertinya teman-teman di kelas itu banyak. Nah, dari situ akhirnya saya ngecek di saya sendiri karena saya juga mengalami diare," ujarnya.
Dari data sementara jumlah yang masuk sekolah dan mengalami diare mencapai 123 anak. Sementara itu, 70 siswa juga tidak masuk sekolah. Sebagian di antaranya juga menginformasikan, jika mengalami sakit perut.
Selain siswa, gejala mirip keracunan tersebut juga dialami guru. Insiden itu terjadi setelah, Senin (20/1/2026) siang mereka mengkonsumsi menu MBG yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan, yang berlokasi di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu.
"Menunya kemarin itu nasi putih, tahu kuning, ayam bakar, sambal kecap, dan buah semangka. Kami mengkonsumsi MBG sekitar pukul 13.00 WIB," jelasnya.
Terkait kejadian tersebut ratusan siswa itu mendapatkan penganan sementara dari UKS. Pihak sekolah selanjutnya memulangkan seluruh siswa agar dapat beristirahat di rumah masing-masing.
Kejadian tersebut juga langsung dilaporkan ke Satgas MBG Tulungagung dan perwakilan BGN, guna dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
Sementara itu, Koordinator BGN Tulungagung, Sebrina Mahardika mengatakan pascainsiden dugaan keracunan tersebut, pihaknya bersama Dinkes Tulungagung langsung turun tangan untuk melakukan proses penyelidikan lebih lanjut.
SPPG tersebut sempat beroperasi untuk menyediakan 2.819 porsi makanan untuk siswa Paud, TK, SD, SMK dan posyandu.
"Kalau produksi hari ini masih, tapi karena ada laporan langsung di-hold makanannya ditarik semua ya," kata Sebrina.
SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan beroperasi sejak dua bulan terakhir, pihak BGN mengakui meskipun beroperasi dapur tersebut belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinkes.
"SLHS belum ada dan itu sudah diajukan proses tapi belum keluar hasilnya," bebernya.
Pascakejadian, operasional SPPG tersebut dihentikan sementara hingga proses pemeriksaan dari dinas kesehatan dan instansi terkait tuntas. Namun, untuk keputusan akhir pihaknya menunggu kebijakan langsung dari BGN pusat.
"Sementara tidak (beroperasi). Jadi sampai dengan keputusan dari pimpinan kita," imbuhnya.
Dengan kejadian di SMKN 3 Boyolangu, BGN Tulungagung mencatat telah dua kali peristiwa keracunan akibat menu MBG. Peristiwa pertama terjadi pada 13 Oktober 2025 yang menimpa siswa SMPN 1 Boyolangu.
Editor: Arief Sukaputra




