WASHINGTON DC (Lentera) -Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan, armada militer besar-besaran sedang bergerak menuju Iran.
Dia menambahkan, armada yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln tersebut siap menjalankan misi dengan cepat serta kekuatan penuh jika diperlukan.
Trump juga memperingatkan, serangan AS berikutnya terhadap Iran akan jauh lebih buruk dibandingkan serangan sebelumnya.
Sebagaimana diketahui, "Negeri Paman Sam" sempat menyerang fasilitas Iran pada Juni 2025.
"Sebuah armada besar sedang bergerak menuju Iran dan bergerak dengan cepat, dengan kekuatan besar, antusiasme, serta tujuan yang jelas," kata Trump di platform media sosial Truth Social, Rabu (28/1/2026).
Mengapa Kebijakan MSCI Membuat IHSG Ambrol? Artikel Kompas.id Dia menyebut, armada tersebut lebih besar dibandingkan pengerahan militer AS ke Venezuela sebelumnya dan dipimpin oleh kapal induk Abraham Lincoln.
"Ini adalah armada yang lebih besar, dipimpin oleh kapal induk besar Abraham Lincoln, dibandingkan armada yang dikirim ke Venezuela," ujar Trump.
Trump menegaskan bahwa armada itu siap menjalankan misi secara cepat, termasuk dengan kekerasan apabila diperlukan.
"Seperti halnya Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu melaksanakan misinya dengan cepat, dengan kecepatan dan kekerasan jika diperlukan," kata Trump. T
rump menekan Teheran agar segera membuka jalur negosiasi dan menyepakati kesepakatan yang menghentikan ambisi kepemilikan senjata nuklir.
"Semoga Iran segera 'datang ke meja perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara tanpa senjata nuklir, yang baik bagi semua pihak," ujar Trump, mengutip Kompas.
Trump mengingatkan bahwa Iran sebelumnya telah diberi kesempatan untuk mencapai kesepakatan, tetapi kesempatan itu tidak dimanfaatkan.
Ditolak sekutu
Di sisi lain, dua sekutu utama AS di Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), secara tegas menyatakan tidak akan membantu Washington jika menyerang Iran.
Sikap ini menjadi hambatan diplomatik signifikan bagi pemerintahan Trump yang tengah mempertimbangkan opsi militer sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap para pengunjuk rasa di Iran.
Pada Selasa (27/1/2026), Arab Saudi resmi melarang penggunaan wilayah udara maupun teritorialnya untuk serangan AS ke Iran.
Langkah ini menyusul pernyataan serupa yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri UEA sehari sebelumnya, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), menyampaikan posisi tersebut secara langsung melalui sambungan telepon kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
"Kerajaan tidak akan membiarkan wilayah udara atau wilayahnya digunakan untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran," demikian bunyi keterangan resmi Arab Saudi terkait pembicaraan tersebut.
Keputusan dua negara Teluk ini dianggap sebagai kemunduran kebijakan luar negeri bagi Trump (*)
Editor: Arifin BH




