SURABAYA (Lentera) – Informasi yang mengaitkan penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dengan serangan jantung, kembali ramai diperbincangkan masyarakat.
Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP., meluruskan bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung secara tiba-tiba dan membutuhkan proses panjang jika dikaitkan dengan gangguan jantung.
“GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, kondisi ini bisa berkontribusi terhadap munculnya gejala yang menyerupai serangan jantung. Keduanya merupakan penyakit pada organ yang berbeda, meskipun berada dalam satu sistem tubuh yang saling terhubung,” ungkap dr. Jordan, Kamis (29/1/2026).
Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ini menjelaskan, GERD berpotensi meningkatkan risiko gangguan jantung apabila disertai faktor risiko lain dan berlangsung dalam proses yang panjang.
Inflamasi pada lambung akibat GERD, misalnya, dapat memicu kerja saraf simpatik yang lebih aktif sehingga tekanan darah meningkat dan detak jantung menjadi lebih cepat.
“Jika kondisi tersebut terjadi dalam jangka panjang dan didukung faktor risiko tertentu, jantung bisa mengalami pembesaran hingga berujung pada gagal jantung. Namun, prosesnya tidak singkat dan sangat bervariasi. Tidak ada pasien GERD akut yang langsung mengalami gagal jantung dalam waktu dekat,” jelasnya.
Untuk itu, dr. Jordan menentang keras praktik diagnosis gangguan kesehatan yang tidak didasarkan pada prosedur medis yang baku, termasuk anggapan bahwa GERD secara langsung menyebabkan serangan jantung. Menurutnya, kesamaan gejala seperti nyeri dada antara GERD dan penyakit jantung tidak dapat dijadikan dasar kesimpulan tanpa pemeriksaan medis yang tepat.
“Setiap keluhan nyeri dada harus ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan penunjang di fasilitas kesehatan. Diagnosis mandiri justru berisiko memperburuk kondisi pasien,” ujarnya.
dr. Jordan mengungkapkan, risiko penyakit jantung dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, yakni faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang dapat dikendalikan. Faktor yang tidak dapat dikendalikan meliputi usia, jenis kelamin, faktor genetik, serta perubahan iklim yang berdampak secara global.
Sementara untuk faktor yang dapat dikendalikan antara lain kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah, penggunaan obat-obatan, gaya hidup, dan kebiasaan sehari-hari.
“Ketika seseorang memahami faktor risiko yang melekat pada dirinya, ia sudah berada satu langkah lebih maju dalam pencegahan. Kita memang tidak bisa menghentikan usia, tetapi bisa memperlambat kerusakan yang terjadi,” ungkapnya.
Mengingat tingginya angka penyakit kardiovaskular di dunia, dr. Jordan mengajak masyarakat untuk lebih aktif mengendalikan faktor risiko melalui penerapan gaya hidup sehat. Upaya tersebut meliputi pengelolaan stres, olahraga rutin, tidak merokok, istirahat yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
"Kalau ada keluhan kesehatan konsultasikan dengan tenaga medis. Dengan demikian, risiko salah diagnosis dan penanganan yang tidak tepat dapat dihindari sejak dini," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Ais




