08 February 2026

Get In Touch

Gejolak IHSG dan Rupiah, Akademisi UB Malang: Sinyal Melemahnya Kepercayaan Investor

Dosen Fakultas Ekonomi UB, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, S.E., M.E.(dok. Humas UB)
Dosen Fakultas Ekonomi UB, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, S.E., M.E.(dok. Humas UB)

MALANG (Lentera) - Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Januari 2026 yang beriringan dengan tekanan terhadap rupiah, dinilai sebagai sinyal melemahnya kepercayaan investor.

Akademisi Universitas Brawijaya (UB) menyebut, pergerakan 2 indikator ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen ekonomi global dan domestik.

"Saham itu simbol kepercayaan investor terhadap bisnis di satu negara. Ketika harganya menurun tajam, artinya kepercayaan dunia usaha dan investor juga sedang menurun," ujar Dosen Fakultas Ekonomi UB, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, S.E., M.E., Jumat (6/2/2026).

Dijelaskannya, pelemahan IHSG umumnya beriringan dengan tekanan pada rupiah. Saat pasar saham terkoreksi, sebagian investor cenderung mengalihkan portofolio ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti emas, surat utang, atau valuta asing.

"Jika kepercayaan menurun, investasi ikut menurun. Sebagian investor memindahkan dananya ke instrumen lain, termasuk valuta asing, dan ini bisa berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah," jelasnya.

Meski pasar bergejolak, Wildan menilai fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan. Cadangan devisa yang relatif kuat, menurutnya dapat menjadi bantalan untuk menahan tekanan terhadap rupiah agar tidak berlangsung berkepanjangan.

Namun, Wildan mengingatkan faktor eksternal tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Ketidakpastian global, potensi krisis ekonomi di kawasan Eropa, ketegangan geopolitik, hingga gangguan rantai pasok dinilai dapat memicu guncangan yang berdampak langsung pada pasar keuangan domestik.

"Pasar saham itu dinamis. Tapi jika ada shock ekonomi, misalnya konflik yang mengganggu rantai pasok, dampaknya bisa besar ke pasar keuangan," katanya.

Wildan menambahkan, pemulihan IHSG sangat bergantung pada respons regulator dan pemerintah. Penguatan regulasi pasar modal, transparansi, serta penegakan aturan yang konsisten dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan investor.

"Ketika ada pembenahan di bursa efek dan otoritas keuangan, pasar secara teoritis akan merespons positif. Itu bisa mempercepat proses pemulihan," katanya.

Untuk diketahui, gejolak pasar tersebut tercermin dari pergerakan IHSG pada 28 Januari 2026 yang ditutup di level 8.320,56 atau turun 7,35 persen dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan tajam ini, menurut Wildan memicu aksi jual di pasar modal.

Tekanan berlanjut pada 29 Januari, IHSG kembali melemah 1,06 persen ke posisi 8.232,20. Sehari kemudian, 30 Januari, IHSG mulai menunjukkan pemulihan terbatas dengan kenaikan 1,18 persen ke level 8.329,60. Namun hal ini dinilai Wildan belum mencerminkan pemulihan yang stabil.

Selain itu, Wildan menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang lebih inklusif, tata kelola perusahaan yang kuat, serta kemudahan perizinan usaha agar pasar modal dapat kembali menjalankan fungsi intermediasi investasi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.