13 February 2026

Get In Touch

Tanda Komunikasi Sehat antara Orangtua dan Anak Remaja

Tanda Komunikasi Sehat antara Orangtua dan Anak Remaja

Masa remaja merupakan fase perkembangan dan perubahan bagi anak, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Anak mulai membangun identitas diri, menguji Batasan, dan mencari kemandirian. Komunikasi yang sehat anatara orang tua dan anak remaja menjadi fondasi penting untuk menjaga hubungan keluarga tetap harmonis dan suportif. 

Pola komunikasi yang tepat tidak hanya membantu orang tua memahami kebutuhan emosional anak, tetapi memberi ruang aman bagi remaja untuk mengespresikan diri. Sejumlah ajli parenting menekankan bahwa hubungan komunikasi yang positif berkontribusi besar terhadap kesehatan mental, rasa percaya diri, serta kemampuan anak dalam mengambil keutusan yang bertanggung jawab.Lalu bagaimana cara menegtahui apakah komunikasi antara orangtua dan anak remaja sudah sehat? Yuk, simak tanda-tandanya berikut ini. 

Orangtua Mampu Mendengarkan Secara Aktif
Salah satu ciri komunikasi sehat adalah kemampuan orangtua untuk mendengarkan secara aktif. Orangtua yang mendengarkan dengan empati membuat remaja merasa dihargai dan lebih terbuka untuk berbagi cerita, termasuk masalah pribadi.

Dialog terbuka tentang topik apapun
Komunikasi sehat ditandai dengan adanya dialog dua arah yang terbuka. Dalam keluarga dengan komunikasi yang baik, anak remaja merasa bebas mengemukakan pendapat, perasaan, maupun pandangan mereka tanpa rasa takut disalahkan.
Topik pembicaraan pun tidak terbatas pada hal-hal ringan, tetapi juga mencakup isu sensitif seperti tekanan akademik, pergaulan, penggunaan media sosial, hingga relasi personal. Keterbukaan ini memungkinkan orangtua untuk memberikan arahan secara bijak tanpa terkesan menggurui.

Adanya Rasa Saling Menghormati
Rasa hormat menjadi elemen penting dalam komunikasi antara orangtua dan remaja. Ketika orangtua menghargai pendapat anak, meskipun tidak selalu sejalan, anak akan belajar bahwa pandangannya memiliki nilai.

Kehadiran Emosional yang Konsisten
Kehadiran orangtua tidak hanya diukur dari seberapa sering berada di rumah, tetapi juga dari keterlibatan emosional yang diberikan. Kehadiran emosional berarti orangtua peka terhadap perubahan suasana hati anak dan siap memberikan dukungan saat dibutuhkan.

Tersedianya Waktu Berkualitas Bersama
Kesibukan orangtua sering kali menjadi penghalang utama dalam membangun komunikasi yang sehat. Namun, meluangkan waktu berkualitas bersama anak, meskipun singkat, dapat memberikan dampak yang signifikan. Aktivitas sederhana seperti makan bersama, berbincang santai, atau melakukan hobi keluarga dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat ikatan emosional. 

Penyelesaian Konflik dengan Cara yang Sehat
Konflik antara orangtua dan remaja merupakan hal yang wajar. Perbedaan sudut pandang sering kali memicu pertengkaran kecil hingga besar. Namun, komunikasi yang sehat tercermin dari cara konflik tersebut diselesaikan. Orangtua yang mampu mengelola emosi, mendengarkan sudut pandang anak, serta bersedia mengakui kesalahan jika diperlukan, memberi contoh positif tentang penyelesaian masalah. 

Memberikan Ruang bagi Kemandirian Anak
Ciri lain dari komunikasi yang sehat adalah kesediaan orangtua untuk memberi ruang bagi anak dalam mengambil keputusan. Remaja perlu belajar mandiri, bereksperimen, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Orangtua tetap berperan sebagai pembimbing, bukan pengendali penuh. Dengan memberikan kepercayaan yang proporsional, anak akan merasa dipercaya dan terdorong untuk bersikap lebih terbuka dalam berkomunikasi. (Nabillatul– UINSA, Berkontribusi dalam tulisan ini)

Fakta-fakta kesehatan mental remaja di Indonesia 
 Peningkatan signifikan pada kasus gangguan emosional dan perilaku melukai diri sendiri. Data terbaru menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia (sekitar 15,5 juta jiwa) memiliki masalah kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan sebagai yang paling umum. 

Peningkatan Prevalensi: Berdasarkan survei I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey), sekitar 2,45 juta remaja terdiagnosis mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir.

Kenaikan Angka Bunuh Diri: Terdapat laporan bahwa angka percobaan bunuh diri di kalangan remaja meningkat hampir tiga kali lipat hingga awal 2026.

Faktor Pemicu Digital: Penggunaan media sosial yang berlebihan, fenomena FOMO (fear of missing out), dan perbandingan sosial di dunia maya menjadi pemicu utama stres dan kecemasan pada Generasi Z.

Jenis Gangguan Umum: Masalah yang paling sering muncul meliputi gangguan kecemasan (anxiety), depresi, gangguan makan, dan ADHD.

Dampak Pandemi & Pasca-Pandemi: Transisi dari isolasi sosial saat pandemi ke tuntutan akademik yang tinggi kembali memperburuk kondisi kesehatan mental akibat kelelahan emosional dan kurangnya strategi koping yang sehat.

Kesadaran yang Meningkat: Meskipun kasus meningkat, terdapat tren positif berupa peningkatan kesadaran (awareness) masyarakat dan keterbukaan remaja untuk mencari bantuan profesional. 


 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.