21 February 2026

Get In Touch

Panduan Aman Puasa bagi Penderita Ginjal dan Lambung

Seminar edukasi bertajuk Ramadhan Bermakna: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung
Seminar edukasi bertajuk Ramadhan Bermakna: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung

SURABAYA (Lentera) -Tidak semua penderita penyakit ginjal dan gangguan lambung aman menjalani puasa Ramadan. Dokter spesialis di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) menegaskan pentingnya skrining kondisi medis sebelum memutuskan berpuasa guna mencegah komplikasi yang lebih serius.

Hal itu disampaikan dalam seminar edukasi bertajuk Ramadhan Bermakna: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung yang digelar di Hall Wikrama, Graha Trimed, RS UNAIR.

Dalam forum tersebut, dr Mutiara Rizki Haryati SpPD K-GH dan dr Andi Ratna Maharani SpPD memaparkan panduan medis sesuai kondisi pasien.

dr Mutiara menjelaskan penyakit ginjal terbagi menjadi dua, yakni ginjal akut dan ginjal kronis. Pada ginjal kronis, kondisi pasien diklasifikasikan menjadi lima stadium berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal.

Menurutnya, pasien stadium 1 dan 2 umumnya masih diperbolehkan berpuasa karena fungsi pembuangan zat sisa tubuh relatif baik. Namun, pada stadium 3a puasa sebaiknya dipertimbangkan secara ketat, sementara stadium 3b lebih dianjurkan untuk tidak berpuasa.

“Untuk stadium 4 dan 5, terutama yang belum menjalani cuci darah, tidak direkomendasikan berpuasa karena dapat mempercepat kebutuhan dialisis,” jelas dr Mutiara dalam keterangan resminya, Jumat (20/2/2026).

Pasien yang sedang menjalani terapi rutin, termasuk hemodialisis, juga tidak dianjurkan berpuasa karena berisiko memperburuk kondisi sekaligus dapat membatalkan puasa. 

Sementara itu, pasien pasca transplantasi ginjal disarankan menunggu setidaknya satu tahun sebelum kembali berpuasa.

Ia menekankan pentingnya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. "Bagi pasien yang diizinkan berpuasa, hidrasi yang cukup saat sahur dan berbuka menjadi kunci, serta menghindari makanan tinggi fosfat dan kalium," tuturnya.

Sementara itu, dr Andi Ratna Maharani menjelaskan gangguan lambung seperti dispepsia atau maag umumnya dipicu pola makan dan gaya hidup tidak sehat. Konsumsi makanan pedas, asam, berlemak, minuman berkafein, serta kebiasaan menunda makan dapat memperparah kondisi saat berpuasa.

Faktor lain seperti stres, penggunaan obat antinyeri tanpa pengawasan dokter, merokok, langsung berbaring setelah makan, serta kurang aktivitas fisik juga meningkatkan risiko kambuh.

Menurutnya, puasa tetap bisa dijalani penderita maag dengan catatan kondisi stabil dan pola makan terkontrol. Namun, pasien harus segera membatalkan puasa jika muncul gejala serius.

“Jika terjadi nyeri berat mendadak, muntah terus-menerus, muntah darah, BAB hitam, nyeri kepala disertai keringat dingin hingga pingsan, maka puasa harus dibatalkan untuk mencegah komplikasi,” tegasnya.

Melalui edukasi ini, RS UNAIR mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri berpuasa tanpa evaluasi medis, terutama bagi penderita penyakit kronis. Konsultasi dokter dan pemantauan kondisi tubuh menjadi langkah penting agar ibadah Ramadan tetap aman dan sehat.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.