SURABAYA (Lentera) - Setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global yang diberlakukan Presiden Donald Trump, bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Jumat (20/2/2026). Penguatan dipimpin saham-saham berkapitalisasi besar seperti Alphabet Inc. dan Amazon.com Inc.
Mahkamah Agung AS, yang didominasi hakim konservatif, memutuskan dengan suara 6-3 untuk menolak tarif global Trump yang diberlakukan tahun lalu berdasarkan undang-undang keadaan darurat nasional, melansir kontan.
Meski demikian, Trump menyebut putusan itu sebagai “a disgrace” dan menyatakan akan memberlakukan tarif global 10% selama 150 hari berdasarkan Section 122 Trade Act 1974 sebagai pengganti tarif darurat yang dibatalkan pengadilan.
Investor menyambut positif fakta bahwa tarif baru tidak lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Melansir Reuters, indeks utama menguat, seperti indeks S&P 500 naik 0,69% ke 6.909,51, Nasdaq Composite melonjak 0,90% ke 22.886,07, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,47% ke 49.625,97. Secara mingguan, S&P 500 naik 1,08%, Nasdaq menguat 1,51%, dan Dow bertambah 0,25%.
Sementara, Saham Alphabet melonjak 3,7%, Amazon naik 2,6%, dan Apple Inc. menguat 1,5%. Saham-saham yang sebelumnya tertekan tarif seperti Hasbro, Wayfair, Williams-Sonoma, dan RH juga naik antara 0,5% hingga 2,3%.
Di satu sisi, ribuan perusahaan global telah menggugat tarif Trump dan meminta pengembalian bea masuk yang telah dibayarkan. Ekonom Penn-Wharton Budget Model memperkirakan lebih dari US$175 miliar penerimaan tarif AS berisiko harus dikembalikan.
Sedangkan terkait dengan ekonomi di AS, berdasarkan data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melambat lebih dalam dari perkiraan pada kuartal IV, sementara inflasi Desember justru meningkat.
Melihat kondisi itu, pelaku pasar melihat peluang sedikit di atas 50% bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan Juni, menurut CME FedWatch Tool.
Investor juga menanti laporan keuangan kuartalan Nvidia Corporation pekan depan. Saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mengalami volatilitas dalam beberapa bulan terakhir di tengah kekhawatiran valuasi tinggi dan belum optimalnya monetisasi investasi AI.
Di sisi lain, Akamai Technologies anjlok 14% setelah memproyeksikan laba kuartal pertama di bawah estimasi analis. (*)
Editor : Lutfiyu Handi






