05 March 2026

Get In Touch

Waspadai Makanan ‘Pabrikan’ Penyebab Kanker Usus Besar Pada Gen Z

 Waspadai Makanan ‘Pabrikan’ Penyebab Kanker Usus Besar Pada Gen Z

SURABAYA ( LENTERA ) - Kasus kanker usus besar umumnya menyerang kelompok lanjut usia, kini merambat dan semakin sering ditemukan di kalangan generasi Z. Fenomena ini merupakan sinyal pergeseran pola penyakit yang mulai menghawatirkan para ahli.

Sebuah studi kanker kolorektal baru-baru ini mengungkapkan bahwa hubungan signifikan antara konsumsi ultra processed food (atau dalam bahasa awam bisa disebut.makanan pabrikan/instan) dengan meningkatnya kasus kanker usus besar sejak dini. Penemuan ini memberi petunjuk yang penting di balik melonjaknya kasus kanker kolorektal pada generasi muda di berbagai belahan dunia.

Meningkatnya angka kanker usus besar dan rektum pada orang dewasa muda, khususnya di Amerika Serikat, konsumsi ultra processed food juga sangat meleset sekitar 70 persen pasokan makanan di AS dan 60 persennya asupan kalori orang dewasa berasal dari makanan ultra-olahan.

Menurut studi pertama dari jenisnya yang dipublikasikan di JAMA Oncology memperkuat bukti bahwa ultra processed food secara signifikan bisa meningkatkan risiko terbentuknya adenoma kolorektal sejak dini. Adenoma merupakan pertumbuhan jaringan awal pada usus besar dan rektum yang bisa berpotensi berkembang menjadi kanker, bahkan sebelum umur 50 tahun.

Di dalam studi pertama tersebut, sumber utama ultra processed food yang sering dikonsumsi oleh para peserta meliputi roti-rotian, makanan sarapan kemasan, saus dan bumbu instan, dan minuman-minuman manis atau minuman dalam kemasan.

Dalam studi tersebut peserta rata-rata mengonsumsi ultra processed food paling banyak yaitu sekitar 10 porsi per hari memiliki 45 persen lebih tinggi dan mengalami pertumbuhan jaringan awal ini dibanding mereka yang hanya mengonsumsi sekitar tiga porsi per hari.
“Temuan ini tidak bersifat definitf, tetapi memberikan petunjuk penting bahwa apa yang kita makan mungkin berperan,” ungkap penulis studi tersebut,

Andrew Chan dari Mass General Brigham Cancer institute.
Para ahli juga mencatat, bahwa ultra processed food sudah lama mengkaitkan berbagai masalah kesehatan yang lain, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Makanan jenis ini umumnya mengandung banyak zat aditif, termasuk pengawet, emulsifier, pemberi rasa, atau bahan pemutih atau pengembang.

Kandungan seratnya rendah, tetapi tinggi kalori, gula, lemak, garam, dan biji-bijian olahan.
“Sebisa mungkin, hindari ultra processed food dan susun pola makan dari makanan utuh seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan atau legum, serta air putih," ungkap David Katz, pendiri True Health Initiative yang dikutip dari Economic Times.

Namun, pertumbuhan jaringan awal di usus besar seringkali tidak menunjukkan gejala, tetapi ketika ukurannya membesar kondisi ini bisa memicu tinja berwarna gelap atau berdarah, nyeri perut, anemia, konstipasi, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan skrining kanker kolorektal yang bisa dimulai saat uisa 45 tahun, dan bisa lebih awal jika memiliki riwayat keluarga.
Meningkatnya kanker usus besar saat usia muda juga mulai merambat di Indonesia. Direktur utama RS kanker Dharmis, R Soeko Werdi Nindito menyebut bahwa terjadi perubahan nyata pada profil usia pasien kanker.
"Usia pengidap kanker semakin muda, termasuk kanker kolorektal yang sebelumnya jarang ditemukan usia di bawah 40 tahun,” ujar Soeko, dikutip dari Detik.
Ia menjelaskan bahwa penyebab kanker umumnya tidak tunggal. Pada kanker usus besar, pola makan dan gaya hidup menjadi faktor yang sangat diperhatikan. (Masykurotul _ Mahasiswa UINSA yang berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.