SURABAYA (Lentera) -Penyakit kanker rongga mulut di Indonesia masih sering ditemukan dalam kondisi stadium lanjut. Salah satu penyebab utamanya adalah keterlambatan deteksi akibat gejala awal yang kerap dianggap sepele, seperti sariawan biasa atau luka di mulut yang tidak kunjung sembuh.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), kanker bibir dan rongga mulut masih termasuk jenis kanker yang ditemukan di Indonesia dengan jumlah kasus yang signifikan.
Sejumlah studi klinis menunjukkan, sebagian besar pasien baru memeriksakan diri ketika penyakit telah berkembang, karena tanda-tanda awal sering tidak menimbulkan rasa nyeri.
Dokter spesialis penyakit mulut dari FK Universitas Ciputra, drg. Karlina Puspasari, mengatakan, luka di rongga mulut yang tidak sembuh dalam waktu lebih dari dua minggu perlu diwaspadai. Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu indikasi awal kanker rongga mulut.
“Sariawan normal biasanya sembuh dalam 7–14 hari. Jika lebih dari dua minggu tidak membaik, apalagi disertai perubahan warna, muncul bercak putih atau merah, atau jaringan terasa lebih keras, itu perlu segera diperiksakan,” ucapnya, Kamis (5/3/2026).
Ia menambahkan tidak adanya rasa nyeri sering membuat pasien merasa aman dan menunda pemeriksaan.
“Kanker rongga mulut pada stadium awal sering tidak terasa sakit. Justru karena tidak nyeri, banyak orang mengabaikannya. Ketika akhirnya terasa sakit atau mengganggu fungsi makan dan bicara, biasanya sudah masuk stadium lanjut,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Ciputra Surabaya meluncurkan program konsultasi kesehatan interaktif bertajuk “Halo UC Dok”. Program ini terbuka untuk masyarakat umum dan disiarkan langsung melalui akun TikTok resmi universitas.
Program ini hadir rutin setiap minggu, dengan jadwal, Rabu: konsultasi kesehatan gigi dan mulut, Kamis: konsultasi kesehatan umum
Disiarkan secara live pukul 15.30–16.30 WIB, masyarakat dapat bertanya langsung kepada dokter secara real-time tanpa dipungut biaya.
Vice Rector for Operations, Technology, and Resources Universitas Ciputra, Michael Hery Tera, mengatakan program ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
“Halo UC Dok adalah wujud komitmen Universitas Ciputra dalam memperluas literasi kesehatan masyarakat Indonesia. Kami ingin berperan aktif bukan hanya dalam pendidikan formal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan publik melalui akses konsultasi yang mudah dan terpercaya,” terangnya.
Melalui program ini, diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya deteksi dini, khususnya terhadap kanker rongga mulut yang kerap terlambat terdiagnosis.
"Edukasi yang tepat dan akses konsultasi yang mudah ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku, sehingga masyarakat lebih peka terhadap gejala awal dan tidak lagi menunda pemeriksaan medis," harapnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH






