07 March 2026

Get In Touch

Survei BI: Penjualan Motor di Malang Turun, Belanja Makanan Naik Selama Ramadan

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi. (dok. Humas BI Malang)
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi. (dok. Humas BI Malang)

MALANG (Lentera) - Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat pada bulan Ramadan, penjualan kendaraan khususnya sepeda motor tercatat menurun sedangkan belanja kebutuhan konsumsi seperti makanan dan minuman mengalami peningkatan.

"Survei ini bertujuan untuk mengetahui sumber tekanan inflasi dari sisi permintaan, sekaligus memberikan gambaran mengenai perkembangan penjualan eceran dan pola konsumsi masyarakat," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, Sabtu (7/3/2026).

Berdasarkan hasil survei tersebut, prakiraan penjualan eceran pada Februari 2026 tercatat mengalami kontraksi sebesar -3,95 persen secara bulanan (month to month/mtm). 

Meski masih mengalami penurunan, Indra menyebut angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan realisasi pada bulan sebelumnya yang terkontraksi lebih dalam di level -5,20 persen (mtm).

Penurunan penjualan terutama terjadi pada beberapa kelompok komoditas. Tiga kelompok dengan penurunan omzet terdalam secara bulanan, yaitu kelompok kendaraan yang terkontraksi -7,40 persen, diikuti kelompok peralatan dan komunikasi di toko sebesar -2,11 persen, serta kelompok suku cadang dan aksesori sebesar -1,76 persen.

"Dari kelompok kendaraan, penurunan paling signifikan disumbang oleh subsektor sepeda motor yang terkontraksi hingga -10,16 persen (mtm). Ini karena kecenderungan masyarakat yang menahan pembelian barang tahan lama di periode Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri," katanya.

Selain kendaraan, kelompok peralatan dan komunikasi di toko juga tercatat mengalami kontraksi sebesar -2,11 persen (mtm). Meski demikian, menurut Indra, penurunan tersebut masih lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang sempat terkontraksi lebih dalam sebesar -6,57 persen (mtm).

Penurunan pada kelompok ini terutama dipicu oleh subsektor perlengkapan telekomunikasi yang terkontraksi -3,27 persen (mtm). Beberapa merek besar perangkat telekomunikasi mulai menurunkan harga produk generasi sebelumnya seiring persiapan peluncuran seri terbaru di pasar.

"Strategi penyesuaian harga tersebut menyebabkan koreksi harga yang cukup dalam pada produk lama sehingga berdampak pada penurunan nilai penjualan atau omzet di sektor tersebut," paparnya.

Sementara itu, kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan juga diprakirakan mengalami kontraksi sebesar -1,76 persen (mtm). Indra mengatakan, angka ini menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,88 persen (mtm).

Penurunan kinerja kelompok ini terutama berasal dari subsektor suku cadang dan aksesori mobil yang tercatat terkontraksi -7,13 persen (mtm). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berakhirnya masa libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 yang sebelumnya meningkatkan mobilitas masyarakat.

Di tengah penurunan pada sejumlah sektor, kata Indra, beberapa kelompok komoditas justru mencatatkan pertumbuhan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan sebesar 7,88 persen (mtm).

Selain itu, kelompok barang budaya dan rekreasi juga mengalami peningkatan penjualan sebesar 3,31 persen (mtm), disusul oleh kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang tumbuh 1,04 persen (mtm).

Indra menambahkan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat maupun daerah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Malang dan sekitarnya.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.