Kejar Investasi Rp3,6 Triliun, Pemkot Malang Target Serapan Tenaga Kerja Naik 20 Persen
MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menargetkan peningkatan serapan tenaga kerja sebesar 20 persen pada 2026, seiring dengan upaya mengejar realisasi investasi sekitar Rp3,6 triliun di sepanjang tahun ini.
"Dengan target tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap diproyeksikan mencapai lebih dari 14 ribu orang pada 2026. Meningkat dibandingkan capaian 2025 yang tercatat sekitar 11.700 tenaga kerja," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker PMPTSP) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, dikutip pada Sabtu (7/3/2026).
Ditegaskannya, proyeksi kenaikan serapan tenaga kerja tersebut dinilai realistis karena selaras dengan target peningkatan investasi sebesar 20 persen pada 2026.
Menurut Arif, peningkatan investasi memiliki hubungan langsung dengan terbukanya lapangan pekerjaan baru. Hal itu karena investasi yang masuk biasanya diikuti dengan pembangunan usaha maupun ekspansi bisnis yang membutuhkan tambahan tenaga kerja.
Data Pemkot Malang juga menunjukkan tren penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, TPT Kota Malang tercatat sebesar 6,10 persen dan berhasil ditekan menjadi 5,69 persen pada 2025.
Apabila target serapan tenaga kerja pada 2026 dapat terealisasi sesuai proyeksi awal, kata Arif, maka tingkat pengangguran terbuka di Kota Malang diperkirakan kembali turun hingga sekitar 5,4 persen.
"Ini (penurunan angka pengangguran) tentunya sejalan dengan perkembangan positif nilai investasi yang masuk ke Kota Malang dalam beberapa tahun terakhir," paparnya.
Lebih lanjut, Arif menjelaskan pada tahun 2024, Pemkot Malang mencatat realisasi investasi mencapai Rp2,4 triliun atau melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp1,4 triliun. Sementara pada 2025, nilai investasi kembali meningkat menjadi Rp3,11 triliun dari target Rp3,06 triliun.
Untuk 2026, pemerintah daerah menargetkan peningkatan investasi sebesar 20 persen dibanding capaian tahun sebelumnya. Dengan demikian, nilai investasi yang diburu diproyeksikan mencapai sekitar Rp3,6 triliun.
Arif menuturkan, sektor usaha yang paling banyak menyumbang investasi sekaligus membuka lapangan pekerjaan di Kota Malang berasal dari bidang makanan dan minuman. Mulai dari kafe, restoran, dan rumah makan, dengan kontribusi sekitar 45 persen.
"Setelah itu disusul sektor properti sekitar 25 persen, dan sektor perhotelan sebesar 20 persen," jelasnya.
Selain mengandalkan investasi, Pemkot Malang juga memastikan program bursa kerja atau job fair tetap diselenggarakan pada 2026 sebagai upaya mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
Meski demikian, Arif mengakui merealisasikan target investasi bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala yang kerap muncul adalah keterlambatan pelaporan data dari investor.
Ia mencontohkan, pada 2025 target investasi baru dapat dipenuhi menjelang akhir tahun. Karena masih ada investor yang baru melaporkan nilai aset, permodalan, serta jumlah tenaga kerja pada periode akhir pelaporan.
Karena itu, pihaknya berupaya meminimalkan kendala tersebut agar proses pembangunan usaha dan operasional bisnis dapat berjalan lebih cepat sehingga penyerapan tenaga kerja juga dapat segera terealisasi.
"Kami optimistis target investasi dan serapan tenaga kerja di Kota Malang dapat tercapai secara beriringan," kata Arif.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais






