TABUNGAN yang dulu menjadi bantalan, kini mulai ikut dimakan keadaan. Hal itu tergambar dari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru. Inflasi Maret 2026 tercatat 3,48 persen secara tahunan. Sayangnga, kenaikan harga bukan karena daya beli masyarakat kuat tapi dipicu faktor biaya dan kebijakan. Data menyebu kenaikan harga terutama akibat lonjakan energi 9,08 persen dan barang yang diatur pemerintah 6,08 persen. Sementara inflasi inti yang menjadi indikator permintaan domestik hanya 2,52 persen. Di saat yang sama, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan simpanan masyarakat mulai menyusut. Dana pihak ketiga turun dari Rp8.112 triliun pada Januari menjadi Rp8.082 triliun pada Februari 2026. Kemudian giro merosot dari Rp2.345 triliun menjadi Rp2.302 triliun dan tabungan turun tipis dari Rp2.862 triliun menjadi Rp2.859 triliun. Kombinasi kenaikan biaya hidup dan menipisnya simpanan ini memberi sinyal rumah tangga mulai 'makan tabungan' untuk bertahan. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/02042026.pdf




.jpg)
.jpg)