10 April 2026

Get In Touch

Pabrik Petrokimia RI Terdampak Konflik Timur Tengah, Produksi Diturunkan

Pabrik petrokimia PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten. (foto:Sekretariat Kabinet)
Pabrik petrokimia PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten. (foto:Sekretariat Kabinet)

JAKARTA (Lentera) - Pabrik petrokimia di Indonesia, PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) terdampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku, sehingga memaksa penurunan tingkat produksi. Kondisi ini dialami akibat tersendatnya distribusi nafta dan liquified petroleum gas (LPG) yang menjadi komponen utama dalam proses produksi.

"LCI hingga saat ini masih beroperasi namun dengan menurunkan tingkat produksinya, dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada," ujar Direktur Management Support LCI, Cho Jin-Woo, dalam keterangan resminya, mengutip Bloomberg, Kamis (9/4/2026).

Dalam situasi tersebut, LCI meminta dukungan strategis dari pemerintah guna memastikan pasokan bahan baku tetap terjaga. Salah satu yang diusulkan adalah penyederhanaan regulasi impor agar proses pengadaan bahan baku bisa lebih cepat dan efisien.

Selain itu, perusahaan juga mendorong penerapan bea masuk 0 persen untuk LPG yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan biaya produksi di tengah lonjakan harga akibat krisis global.

Tak hanya itu, LCI juga mengusulkan adanya bantuan fiskal sementara dari pemerintah. Dukungan ini diharapkan mampu mengimbangi lonjakan biaya yang terjadi secara eksponensial akibat terganggunya rantai pasok global.

"Kami berharap pemerintah dapat membantu memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi kami tetap berlanjut dan memberikan dampak positif bagi program hilirisasi," kata Cho.

Di tengah tekanan tersebut, LCI menegaskan distribusi produk tetap diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri hilir dalam negeri. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas sektor manufaktur nasional.

Cho menambahkan, dukungan pemerintah tidak hanya penting untuk menghadapi kondisi saat ini, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan industri petrokimia domestik ke depan.

"Prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri. LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan," katanya. 

Sebagai informasi, pabrik petrokimia LCI berlokasi di Cilegon, Banten, dan baru diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada November 2025 lalu. Proyek ini merupakan salah satu investasi strategis di sektor hilirisasi migas.

Pabrik tersebut diklaim mampu menekan impor minyak dan gas Indonesia hingga US$1,4 miliar atau sekitar Rp23 triliun per tahun. Selain itu, fasilitas ini juga diproyeksikan menghasilkan produk hilirisasi senilai US$2 miliar atau sekitar Rp33,46 triliun setiap tahun.

Dengan nilai investasi mencapai US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun, pabrik ini memiliki kapasitas pengolahan nafta sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), dengan tambahan LPG hingga 50 persen sebagai bahan pendukung.

Dari proses tersebut, dihasilkan berbagai produk hulu seperti ethylene sebesar 1.000 kTA, propylene 520 kTA, mixed C4 sebesar 320 kTA, pyrolysis gasoline 675 kTA, pyrolysis fuel oil 26 kTA, serta hidrogen 45 kTA.

Sementara untuk produk hilir, pabrik ini menghasilkan high density polyethylene (HDPE) sebesar 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) 200 kTA, polypropylene (PP) 350 kTA, butadiene 140 kTA, raffinate 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.

Editor:Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.