SURABAYA (Lentera) -Pemandangan unik tampak di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) saat kedatangan kloter awal jemaah haji.
Deretan koper jemaah haji terlihat beragam, mulai dari yang dihiasi bantal kecil, manik-manik, foto hingga kain selendang berwarna mencolok. Semua itu bukan sekadar hiasan, melainkan penanda penting bagi para pemiliknya.
Kasubag Umum Asrama Haji Surabaya, Abdullah Mawardi, menyebut penanda tersebut umumnya dipasang sejak dari rumah. Tujuannya sederhana, agar jemaah, terutama lansia lebih mudah mengenali koper mereka sendiri di tengah ratusan barang serupa.
“Biasanya jemaah lansia tidak hafal. Jadi diberi tanda. Kalau sudah difoto, mereka tahu, ‘oh ini koper saya’,” kata Mawardi, Selasa (21/4/2026).
Lebih lanjut, Mawardi menuturkan, tahun ini tidak ada pembatasan terkait bentuk maupun ukuran penanda koper. Berbeda dengan sebelumnya, kini jemaah lebih leluasa berkreasi.
“Sekarang monggo bebas, mau ditandai apa saja boleh. Tidak ada larangan,” tutur Mawardi.
Meski demikian, Mawardi tetap mengingatkan agar jemaah memperhatikan aturan barang bawaan. Sejumlah benda tetap dilarang masuk ke dalam koper, seperti gunting, pisau, hingga silet.
Sementara untuk cairan, hanya diperbolehkan dalam kemasan di bawah 100 mililiter.
“Selain itu, sementara tidak ada temuan barang mencurigakan. Paling yang sering itu benda tajam seperti gunting atau silet,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu jemaah asal Surabaya Siti Rohana sengaja memberikan pita merah lengkap dengan namanya di atas koper sebagai penanda.
"Memang sengaja di rumah diberi penanda. Biar pas ambil koper lebih cepat, dan tahu kalau itu milik saya," ungkapnya.
Dengan penanda yang unik dan aturan yang dipatuhi, diharapkan proses pengelolaan koper jemaah haji berjalan lancar, sekaligus memberi rasa tenang bagi para jemaah selama menjalankan ibadah.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




