04 April 2025

Get In Touch

Indonesia Masuk List Negara Maju Versi AS, Ini Dampaknya

Indonesia Masuk List Negara Maju Versi AS, Ini Dampaknya

Surabaya – Amerika Serikat (AS) memasukkan Indonesia ke dalam list negaramaju yang dibuatnya sendiri. Sebelumnya Indonesia masuk dalam kategori sebagai negaraberkembang, namun, AS merevisi pedoman perdagangan tahun 1998 dan mengeluarkansebanyak 25 negara dari daftar negara berkembang.

Lantas, masuknya Indonesia kedalamlist negara maju akan berdampak baik atau bahkan membawa dampak buruk khususnyadalam bidang ekonomi? Dosen Ekonomi Politik Internasional HubunganInternasional Universitas Airlangga Citra Hennida, S.IP., M.A. menyebutkanbahwa langkah AS tersebut merupakan hal yang terprediksi. Mengingat, kini AScenderung menerapkan politik isolasionis dan lebih memperhatikan kepentingandalam negeri.

“Alasan utama Amerika Serikatmelakukan hal itu karena dua puluh lima negara tersebut selama ini menjadipenyebab defisitnya neraca perdagangan lintas negara AS,” ungkapnya.

Berdasarkan data BPS bulanJanuari 2020 saja, neraca perdagangan Indonesia dengan AS terhitung surplus diangka USD 1,08 miliar. Surplus perdagangan sendiri terjadi ketika nilai eksporIndonesia ke AS lebih tinggi daripada nilai impor produk AS di Indonesia.Tingginya angka surplus tersebut menjadi alasan AS selama bertahun-tahunmengkritisi Special Differential Treatment (SDT) di World TradeOrganization (WTO) yang dianggap terlalu menguntungkan negara-negaraberkembang.

“Dalam WTO sendiri, negaraberkembang memang mendapat keringanan dalam hal tarif, bea, bunga hutang,maupun subsidi produksi untuk menjaga daya saing dengan negara maju,” kataCitra.

Pada dasarnya, definisi negaramaju maupun negara berkembang tidak secara jelas diuraikan WTO. Status negaramaju atau berkembang merupakan hal yang self-claim. Akan tetapi, BankDunia secara umum menentukan predikat tersebut melalui nilai Gross DomesticProduct (GDP). Hingga saat ini, sebenarnya Indonesia masih berada pada middleincome countries berdasarkan patokan nilai GDP.

“Dalam kasus Amerika, merekamenjadikan keanggotaan negara-negara G20, angka surplus, serta GeneralizeSystem of Preference (GSP) sebagai alasan. Sasaran utama AS sendirisebenarnya adalah Tiongkok dan India. Tapi, menular hingga negara-negara laindengan nilai surplus tinggi, termasuk Indonesia,” tuturnya.

Hal tersebut membuat Indonesiaterancam kehilangan beberapa preferensi khusus yang didapatkan negaraberkembang. Posisi negara maju secara umum membawa pengaruh besar sepertimewajibkan negara untuk menerapkan subsidi maksimal 1 persen dari keseluruhanproduksi. Sementara bunga hutang yang awalnya bisa berada pada angka 0,25persen akan menjadi jauh lebih tinggi. Pada sisi lain yang turut terdampakadalah nilai bea impor yang akan berubah. Maka pengaruh utama yang harusdiantisipasi adalah menurunnya surplus neraca perdagangan terhadap AS.

“Hal yang perlu diperhatikanpemerintah ada dua. Pertama, isu ini mungkin saja mempengaruhi perspektifnegara lain dalam memandang status Indonesia. Kedua, meski menjadi salah satutujuan ekspor utama, pemerintah hendaknya jangan terus bertumpu pada AS. Kitaharus mulai mencari pasar-pasar baru sebagai tujuan ekspor,” tandasnya.

Selain Indonesia, negara-negaralain yang terkena imbas dari kebijakan AS tersebut adalah Tiongkok, Brazil,India, Albania, Argentina, Armenia, Bulgaria, Kolombia, Kosta Rika, Georgia,Hong Kong, Kazakhstan, Republik Kirgis, Malaysia, Moldova, Montenegro, MakedoniaUtara, Romania, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Thailand, Ukraina,dan Vietnam. Sementara itu, perlu digarisbawahi, bahwa preferensi negara majudan berkembang tersebut merupakan daftar yang AS buat sendiri untuk menentukanhubungan dagang yang dijalin dengan negara-negara lain. (ufi/ist) 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.