03 April 2025

Get In Touch

Wabah Monkeypox, Masyarakat Tidak Perlu Panik Namun Tetap Waspada

Dr. dr. Dhelya Widasmara, SpKK (K)
Dr. dr. Dhelya Widasmara, SpKK (K)

MALANG (Lenteratoday) – Seiring dengan pernyataan World Health Organization (WHO) terkait wabah Monkeypox sebagai global health emergency pada Sabtu (23/7/2022), Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya mengharapkan supaya masyarakat Indonesia tidak panik namun tetap waspada.

Lantas seperti apa sebenarnya Monkeypox tersebut? Dr. dr. Dhelya Widasmara, SpKK (K), dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya menyatakan bahwa gejala cacar monyet manusia ini mirip dengan gejala cacar pada cacar air, namun cenderung lebih ringan. “Yang membedakan adalah, pada cacar monyet didapatkan pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati),” jelasnya, Kamis (28/7/2022).

Menurut dokter kulit yang mengambil fokus pada infeksi tropik ini, terdapat dua fase yang menjadi tanda munculnya gejala Monkeypox, yakni fase prodromal dan fase erupsi. Dikatakan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Kemenkes RI, penderita yang sedang berada dalam fase prodromal akan menunjukkan gejala seperti demam yang disertai dengan nyeri otot, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) yang dirasakan di leher, ketiak atau area selangkangan, sakit kepala yang kadang terasa hebat, badan akan terasa panas dingin dan disertai dengan lemas.

Sementara itu, fase erupsi merupakan fase yang terjadi setelah fase prodromal. Penderitanya biasanya akan mengalami ruam yang mulanya di wajah dan akan menyebar ke daerah tubuh lainnya secara bertahap. Fase erupsi ini biasanya terjadi 1-3 hari atau bisa lebih lama.

Gejala dari cacar monyet ini akan berlangsung selama 2 sampai 4 minggu lamanya hingga ruam atau lesi menghilang dari kulit penderita. Ruam tersebut akan berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (maculopapular), lepuh yang berisi cairan bening atau nanah, lalu mengeras atau keropeng hingga akhirnya rontok.

“Penularan virus monkeypox terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan hewan, manusia, atau bahan yang terjangkit atau terkontaminasi virus. Kemudian virus masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit atau luka yang sangat kecil (walaupun tidak terlihat), saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut),” terang dosen yang juga alumni dari FK-UB ini.

“Sedangkan  Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran, kontak langsung dengan cairan tubuh atau material dari lesi (seperti darah), atau kontak tidak langsung, seperti melalui alas yang terkontaminasi,” tambahnya.

Lebih lanjut Dhelya juga mengatakan bahwa penularan antar manusia dapat dimungkinkan terjadi melalui droplet (percikan) pernapasan.  “Percikan droplet tidak dapat bertahan lama dan terbang jauh, maka diperlukan kontak tatap muka yang lama. Metode penularan dari manusia ke manusia lainnya termasuk kontak langsung dengan cairan tubuh atau material dari lesi dan kontak tidak langsung dengan material lesi, seperti melalui pakaian atau linen yang terkontaminasi,” tandasnya.

Ketika disinggung tentang bagaimana penanganan awal jika masyarakat terkhusus anak-anak terjangkit virus  penyakit cacar monyet ini, dia menjelaskan bahwa sebenarnya monkeypox adalah jenis penyakit yang bisa sembuh sendiri. “Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi virus Monkeypox, sehingga pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan ada beberapa penanganan yang dapat dilakukan di rumah, apabila pernah melakukan kontak dengan penderita monkeypox atau jika terdapat gejala yang muncul. Yakni dengan memisahkan pasien yang terinfeksi dari lingkungan sekitar, kedua dengan melakukan istirahat total. Selanjutnya, pasien sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan memaksimalkan minum air putih untuk asupan cairan pada tubuh, minum obat penurun panas bila muncul demam, untuk mengurangi rasa gatal dapat dilakukan dengan cara mengompres menggunakan kassa dan cairan infus, serta mengkonsumsi obat antihistamin, jangan menggaruk atau memecah ruam.

Sedangkan golongan yang mungkin berisiko tinggi terkena serta mengalami gejala berat yakni misalnya sepsis, ensefalitis, atau kondisi yang sekiranya membutuhkan rawat inap. Yakni seperti: orang dengan kondisi immunocompromise (misalnya, infeksi HIV/AIDS leukemia, limfoma, keganasan, transplantasi organ, konsumsi kortikosteroid dosis tinggi, atau memiliki penyakit autoimun). Selanjutnya, pasien yang berusia kurang dari 8 tahun, wanita hamil dan menyusui, kemudian orang dengan satu atau lebih komplikasi (misalnya, infeksi kulit bakteri sekunder; gastroenteritis dengan mual/muntah yang parah, diare, atau dehidrasi; bronkopneumonia; penyakit bersamaan atau komorbiditas lainnya.

Dr. Dhelya juga menambahkan beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus monkeypox yakni dengan cara hindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi sarang virus, termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi. Sebisa mungkin hindari kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit.

Selain itu juga, perlu adanya pembatasan konsumsi dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik, maupun daging yang diburu dari hewan liar. Memisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi, selalu menjaga kebersihan tangan yang baik setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. Misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol, untuk tenaga kesehatan, selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien.

Terakhir, ketika ditanya mengenai kemungkinan virus ini masuk ke wilayah Malang Raya, dokter Spesialis Dermatoveneurologi ini menuturkan ada saja kemungkinannya, meski menurut data hingga saat ini di Indonesia, termasuk Malang belum ada laporan mengenai orang yang terserang monkeypox.

“Yang pertama dan paling penting adalah jangan panik. Kedua, pastikan anak kita telah mendapatkan vaksinasi, dalam hal ini vaksin program pemberantasan cacar (smallpox) yang dapat memberikan perlindungan terhadap monkeypox. Selalu jaga daya tahan tubuh yang kuat dengan istirahat yang cukup, pola hidup sehat, dan kurangi stress. Yang terakhir dan tidak kalah penting adalah selalu berdoa kepada Allah SWT agar dijauhkan dari segala macam penyakit,” tegasnya.

Di luar negeri, negara selain Afrika yang pernah melaporkan kasus monkeypox pada manusia terkait riwayat perjalanan dari negara endemis atau hewan import adalah Amerika Serikat (2003), Inggris, Israel (2018) dan Singapura (2019). Pada tanggal 7 Mei 2022 Inggris Raya juga melaporkan adanya 1 (satu) kasus monkeypox pada warga Inggris yang memiliki perjalanan dari Nigeria.

Masyarakat dihimbau untuk segera melapor pada fasilitas kesehatan apabila ditemukan gejala yang mirip dengan gejala cacar monyet atau monkeypox, walaupun wabah ini belum dilaporkan ada di Indonesia dan Malang Raya. (*)

Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.