
INDIA (Lenteratoday) - Kondisi cuaca panas ekstrem menyerang India, bahkan suhu di siang hari mencapai 50 derajat celsius.
Otoritas cuaca India mengeluarkan peringatan tanda bahaya di sejumlah wilayah di bagian barat laut karena panas ekstrem, Rabu(29/5/2024). Sebagian wilayah ibu kota New Delhi mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang masa, yakni mendekati 50 derajat celsius.
Badan Meteorologi India melaporkan suhu udara di Negara Bagian Rajasthan mencapai 50 derajat celsius pada, Senin(27/5/2024). Di negara bagian yang bersebelahan, yakni Punjab dan Haryana, tercatat suhu mencapai 48 derajat celsius. Peringatan itu juga menyebutkan, besar kemungkinan muncul penyakit terkait cuaca panas dan serangan panas yang dialami semua lapisan umur masyarakat.
Warga di jalanan Delhi menuturkan, tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk menghindari panas ekstrem. Saat melangkah di jalanan pada siang hari, mereka seperti berada dalam terowongan angin raksasa dengan udara panas yang kering, menyengat kulit, dan berdebu. ”Semua orang ingin tinggal di dalam ruangan," kata Roop Ram, pedagang kaki lima mengutip kompas.id, Kamis(30/5/2024).
India sebetulnya tidak asing dengan cuaca panas tinggi. Namun, penelitian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir menemukan, perubahan iklim menyebabkan gelombang panas lebih lama, lebih sering dan lebih intens.
Pemerintah India menetapkan waspada gelombang panas, jika suhu udara melampaui 45 derajat celsius. Tahun lalu lebih dari 100 orang di India dan Pakistan tewas, akibat sengatan gelombang panas. Tahun ini, bahaya gelombang panas di India semakin besar karena sedang berlangsung pemilihan umum. Warga harus mengantre di tengah udara panas menyengat untuk memberikan suara.
Tak hanya pada siang hari, saat malam pun India disergap fenomena pulau panas (heat island) akibat efek gas rumah kaca di kota besar. Udara panas terperangkap di kawasan urban, sehingga malam terasa gerah. Suhu udara saat malam terpantau hingga 40 derajat celsius.
Kota-kota besar India, seperti New Delhi, Mumbai, Chennai, Bengaluru, Kolkata dan Hyderabat, diprediksi mengalami hawa panas yang semakin buruk akibat meningkatnya kelembaban dalam dua dasawarsa.
Kajian Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan (CSE) India mengungkapkan fenomena pulau panas terjadi di perkotaan India, membuat hawa panas terperangkap akibat berkurangnya daerah hijau, kemacetan lalu lintas, penyerapan panas dan tambahan hawa panas dari aktivitas manusia.
Suhu panas tinggi dan kelembaban, membuat mekanisme pendinginan tubuh manusia terganggu. Kondisi tersebut membuat manusia mudah sakit dan bahkan mengakibatkan kematian, sekalipun udara panas sudah tidak terlalu ekstrem.
Kajian CSE mengungkapkan terjadi kenaikan 5–10 persen kelembaban musim kemarau, terutama di wilayah perkotaan besar India dalam 10 tahun terakhir. Kenaikan tertinggi dicatat di Hyderabad (10 persen) disusul Mumbai (8 persen), Kolkata (7 persen), dan Chennai (5 persen).
Khusus di New Delhi, situasi semakin parah karena meluasnya bangunan dari 31,4 persen pada 2003 menjadi 38,2 persen pada 2022. Sejauh ini, kawasan hijau di New Delhi mampu membantu mengatasi panas ekstrem saat siang. Namun, itu tidak berpengaruh saat malam karena fenomena jebakan panas.
Sejak awal pekan lalu, suhu termometer tercatat 47 derajat celsius di New Delhi. Badan Meteorologi India telah mengeluarkan peringatan waspada untuk warga perkotaan di Rajasthan, Punjab, Haryana, dan Uttar Pradesh barat. Pemerintah setempat menutup sekolah untuk libur musim panas. Akan tetapi, pekerjaan konstruksi berlanjut di tengah sengatan hawa panas.
Direktur Badan Meteorologi India Mrutyunjay Mohapatra mengatakan gelombang panas ekstrem akan berlanjut hingga awal Juni 2024.
”Gelombang panas di atas normal terjadi di barat laut India dan wilayah pusat, biasanya di kawasan tersebut hanya terjadi dua sampai tiga hari gelombang panas. Kali ini diperkirakan terjadi gelombang panas terjadi empat hingga enam hari pada pekan pertama Juni,” katanya.
Pada akhir April, dua orang tewas akibat gelombang panas di Negara Bagian Kerala di selatan India. Di Negara Bagian Gujara, empat orang meninggal diduga dampak gelombang panas di kota Vodavara sebagaimana dilaporkan Times of India, Kamis(23/5/2024).
Hanya wilayah di kaki Pegunungan Himalaya, yakni Jammu dan Kashmir, serta wilayah timur laut, yakni Assam, Meghalaya, Arunachal Pradesh, Sikkim, dan Nagaland-Manipur-Mizoram, yang tidak terkena gangguan hawa panas.
Editor:Ais