18 March 2026

Get In Touch

Menabung Ketahanan Pangan Melalui Inovasi Lintas Generasi (1): Menanam Melon dengan Logika Milenial di Jombang

Ahmad Laffilian Romadhi menemani pengunjung di lahan Melonponik di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Jombang.(dok.pri)
Ahmad Laffilian Romadhi menemani pengunjung di lahan Melonponik di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Jombang.(dok.pri)

JOMBANG (Lenteta)-TAHUN 2021 hingga 2023 merupakan tahun terkelam dalam sejarah pertanian petani di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Jombang. 

Hujan yang turun saat musim kemarau menenggelamkan ladang semangka dan melon tepat sebelum panen.

Akibat kegagalan panen membuat Ahmad Laffilian Romadhi (27) menguatkan tekadnya untuk mencari jalan keluar.

Lian -sapaan akrabnya, memutuskan untuk mengambil langkah besar. Ia tidak ingin terjebak dalam siklus kerugian yang sama.

Ia pergi ke Gresik, mempelajari teknik pertanian ‘modern’ (yang dikenal sebagai hidroponik) selama tiga hari.

Lian segera kembali pulang untuk melaksanakan rencananya. Ia membangun rumah kaca pertamanya di lahan seluas 6x20 meter. Lahan tersebut ada di samping rumahnya.

Ia memulai konsep pertanian revolusioner yang disebut Melonponik. Agribisnis ini mudah bagi Lian yang lulusan fresh dari Politeknik Negeri Malang (Polinema). Ia berani berbeda. 

“Saya membawa apa yang saya sebut sebagai ‘logika milenial’ ke dunia agribisnis. Bertani di zaman modern ini bukan hanya tentang pekerjaan fisik. Tetapi tentang penggunaan algoritma dan data," katanya saat ditemui pada 28 Mei 2025.

Melonponik adalah peta jalan mengintegrasikan budidaya melon premium dengan teknologi Internet of Things (IoT).

Di dalam greenhouse milik Lian, setiap tanaman melon diperlakukan seperti pasien di ruang perawatan intensif. 

Ia mengembangkan sistem smart greenhouse yang dilengkapi dengan sensor suhu, kelembaban, intensitas cahaya, hingga sensor nutrisi. 

Hebatnya, semua parameter ini tidak perlu diperiksa secara manual satu per satu.

"Seluruh teknologi ini dikontrol melalui sistem yang tersambung ke ponsel atau laptop. Jika suhu di dalam ruangan terlalu panas, sistem akan memberikan peringatan atau bahkan melakukan tindakan otomatis seperti menyalakan penyiraman," jelas Lian.

Teknologi automasi ini memungkinkan Lian mengatur tingkat pH dan kepekatan nutrisi (PPM) dengan sangat akurat. 

Hasilnya tidak main-main. Melon hasil budidaya Melonponik memiliki tingkat kemanisan atau brix mencapai 14-17 persen. 

Sebagai perbandingan, melon di pasar tradisional jarang sekali menyentuh angka setinggi itu.  Teksturnya pun sangat khas: renyah (crunchy) namun tetap juicy (segar berair).

Ahmad Laffilian Romadhi.(dok.pri)
Ahmad Laffilian Romadhi.(dok.pri)

Lian, yang sudah lama bergelut di dunia karikaturis, mengaku menemukan keasyikan baru dalam merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP). Ia sadar bahwa inovasi ini tidak boleh berhenti di tangannya sendiri. Ia mulai menularkan "virus" pertanian modern ini kepada rekan-rekan sesama milenial.

Solusi bisnis

Kini, tim Melonponik telah berkembang menjadi lima orang. Dari satu greenhouse percobaan, mereka mengelola empat unit internal dan telah membangun 25 greenhouse mitra yang tersebar di Jombang, Kediri, hingga Blitar.

Lian menawarkan solusi bisnis yang terukur. Ia menyediakan dua pilihan struktur greenhouse. Pertama struktur bambu dengan biaya sekitar Rp185.000 per meter persegi. "Cocok untuk pemula dengan ketahanan 3-5 tahun," jelansya.

Kemudian ada struktur galvanis. Dengan biaya Rp550.000 per meter persegi, sebuah investasi jangka panjang yang bisa bertahan hingga 10 tahun.

"Untuk skala produksi, lahan minimal 400-500 meter persegi adalah angka yang paling rasional secara hitungan bisnis. Di sana, kita bisa memanen antara 1 ton hingga 1,7 ton melon sekali musim," ungkapnya lugas.

Memilih Pasar Premium 

Produk unggulan Melonponik varietas Sweetnet, Sweet Hami, dan Inthanon kini menjadi primadona di pasar Jakarta dan Bali. 

Produk Melonponik. (dok.pri)
Produk Melonponik. (dok.pri)

Dengan harga jual yang stabil di angka Rp25.000 hingga Rp29.000 per kilogram, bertani melon premium, terbukti jauh lebih menguntungkan dibanding sistem konvensional yang harganya seringkali anjlok saat panen raya.

Kegigihan Lian membuahkan pengakuan resmi. Ia terpilih sebagai Juara 1 Pemuda Pelopor Kabupaten Jombang Bidang Pangan tahun 2024. 

Namun bagi Lian, penghargaan tertingginya adalah saat melihat anak-anak muda mulai kembali ke sawah tanpa rasa malu.

"Ini bukan lagi soal kotor-kotoran, tapi soal efisiensi dan teknologi. Saya ingin membuktikan bahwa dari desa, dengan sebuah ponsel dan logika yang tepat, kita bisa menguasai pasar nasional," tutupnya optimis.

Reporter: Widyawati/Editor: Arifin BH
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.