04 April 2026

Get In Touch

Atasi Kekeringan, Anggota DPRD Jatim Usulkan Sumur Artesis Permanen

Anggota DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas
Anggota DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas

SURABAYA (Lentera) - Anggota DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas mengusulkan kebijakan penanganan kekeringan yang lebih fokus, permanen, dan terintegrasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota hingga pemerintah pusat.

Salah satu solusi yang diusulkan, adalah pembangunan sumur artesis permanen yang dapat dimanfaatkan oleh beberapa desa sekaligus.

“Sumur artesis dengan tandon besar bisa meng-cover beberapa desa. Ini solusi jangka panjang,” ungpak Puguh, Jumat (03/04/2026).

Politisi PKS tersebut menilai, persoalan kekeringan bukan hal baru karena wilayah terdampak merupakan daerah langganan yang mengalami kondisi serupa setiap musim kemarau.

“Lokusnya itu-itu saja, berulang setiap musim kemarau. Selalu terjadi krisis air, terutama air bersih,” ujarnya.

Puguh juga menyoroti, pola penanganan yang masih bersifat darurat, seperti distribusi air bersih menggunakan tangki, yang dinilai belum menyelesaikan akar masalah.

“Jangan tiap tahun hanya kirim tangki air. Harus ada solusi permanen,” tegasnya.

Ia mencontohkan, kawasan Malang Selatan seperti Kalipare, Donomulyo hingga Gedangan, yang hampir selalu terdampak kekeringan setiap tahun.

“Karena ini kejadian berulang, seharusnya pemerintah daerah sudah punya solusi konkret, bukan reaktif,” sambungnya.

Selain itu, Puguh menilai optimalisasi sumber mata air melalui pipanisasi menjadi opsi strategis, dengan dukungan pompa dan jaringan distribusi agar air dapat dialirkan langsung ke wilayah terdampak.

“Kalau ada sumber air, maksimalkan dengan pipanisasi. Lengkapi dengan pompa dan generator,” katanya.

Dari sisi anggaran, ia menyebut pembangunan satu sumur artesis berkisar Rp200-300 juta dan menyarankan adanya klasterisasi desa terdampak berdasarkan tingkat keparahan.

“Didahulukan yang paling parah. Ini bisa jadi program berkelanjutan setiap tahun,” ujarnya.

Ia juga membuka peluang kolaborasi pendanaan, antara APBD dan APBN untuk memperkuat program penanganan kekeringan.

“Kalau ini dikerjakan serius dan kolaboratif, persoalan kekeringan tidak akan lagi jadi isu tahunan," pungkasnya.

 

Reporter: Pradhita/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.