04 April 2025

Get In Touch

Perjuangan 3 Tahun 'Putri Lestari' untuk Layanan Penderita Thalasemia, Berbuah Apresiasi dari Pemprov Jatim

Salah lsatu ayanan program Putri Lestari di RSUD Gambiran yang digagas Pemkot Kediri
Salah lsatu ayanan program Putri Lestari di RSUD Gambiran yang digagas Pemkot Kediri

KEDIRI, (Lenteratoday)- Keprihatinan Pemkot Kediri terhadap para penyandang Thalasemia membuat Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar menghadirkan pelayanan terbaik bagi penderita Thalasemia, lewat program Putri Lestari. Program ini masuk 30 Besar Program Kovablik Jatim 2022.

Apa itu Putri Lestari ? Putri Lestari merupakan kependekan dari Pelayanan Terpadu dan Terintegrasi Thalasemia Kota Kediri. Jika ditanya, pasti tak satupun orang didunia ini memilih untuk sakit. Terlebih menderita penyakit yang harus melakukan perawatan medis seumur hidup.

Penyakit Thalasemia misalnya, yang membuat penderitanya harus menjalani transfusi darah secara terus menerus. Hal inilah yang membuat Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar menhadirkan pelayanan terbaik bagi penderita Thalasemia, lewat program Putri Lestari.

Menurut dr. Renyta Damayanti, Sp. A, koordinator program Putri Lestari, Program ini merupakan bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Kediri kepada para penyandang Thalasemia di Kota Kediri untuk mendapatkan akses layanan kesehatan terbaik.

Dokter spesialis anak tersebut mengatakan pada awal mula program ini diluncurkan tahun 2019 lalu, berangkat dari kenyataan bahwa penderita Thalasemia mayor di Kota Kediri setiap bulan harus bolak balik ke Surabaya/Malang untuk mendapatkan perawatan rutin.

“Anak penyandang Thalasemia mayor terutama, harus mendapatkan transfusi darah rutin setiap 3 minggu hingga 1 bulan sekali. Namun, tidak semua bisa menerima transfusi darah PRC biasa, ada beberapa diantaranya yang mendapat reaksi alregi atau kondisi medis tertentu,” papar dr Renyta, saat ditemui Kamis (8/12/22) lalu.

“Jika ini yang terjadi mengharuskan prosedur transfusi darah khusus atau disebut Leukodepleted (darah telah dicuci dan diproses sedemikian rupa). Dulu, sebelum ada Putri Lestari ini, prosedur transfusi darah Leukodepleted ini hanya tersedia di rumah sakit tipe A, yakni di Surabaya/Malang,” imbuhnya.

Renyta menambahkan, otomatis karena perawatan ini bersifat rutin, setiap bulan pasien harus bolak-balik Kediri-Surabaya/Malang. Tentu hal ini menjadi beban tersendiri bagi orang tua, terlebih mayoritas penderita Thalasemia di Kota Kediri ini merupakan masyarakat dengan kondisi Ekonomi menengah ke bawah.

Di sela-sela wawancara dokter spesialis anak ini sangat bersyukur, sebab pada 2019 lalu, Pemkot Kediri memberikan perhatian khusus kepada warga penyandang Thalasemia. Walikota Kediri menyediakan kantong khusus untuk produksi transfusi darah Leukodepleted di PMI Kota Kediri.

“Kantongnya khusus, jadi tidak sembarang kantung darah bisa digunakan. Dengan adanya kantong tersebut di PMI Kota Kediri, sehingga prosedur transfusi darah Leukodepleted ini sudah bisa dilaksanakan di RSUD Gambiran Kota Kediri, jadi tidak perlu bolak-balik lagi ke Surabaya/Malang,” katanya dengan binar mata penuh syukur tercermin dimatanya.

“Sejak saat itulah PUTRI LESTARI hadir memperjuangkan layanan kesehatan kepada para penyandang Thalasemia di Kota Kediri,” ucap dr. Reynita. Kini ruangan khusus di lantai 3 RSUD Gambiran Kota Kediri sengaja disiapkan untuk pelayanan bagi anak penderita Thalasemia.

Ketika masuk ke ruangan berlabel ‘Galuh’ tersebut, nuansa yang ramah anak tersebar disetiap sudut ruangan. Lukisan karakter kartun membuat ruangan tersebut nyaman bagi anak selama menjalani perawatan rutinnya.

“Ada 3 fokus utama program Putri Lestari ini, pertama layanan transfusi darah Leukodepleted, kedua penyediaan obat kelasibesi (obat rutin yang harus diminum pasien Thalasemia setiap hari untuk mencegah terjadinya komplikasi karena pengumpulan zat besi efek dari transfusi darah rutin), dan layanan fast track bagi pasien anak dengan Thalasemia, jadi pasien tidak perlu menunggu lagi, ada jalur khusus yang disiapkan, sehingga semuanya bisa lebih cepat”, tutur Renita.

Menurut dr. Reynita, rupanya semua itu tidak lepas pula dari peran para orangtua anak penyandang Thalasemia yang tergabung dalam sebuah organisasi POPTI (Persatuan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia) Kota Kediri.

Dengan semangat juang yang tinggi dan rasa kasih sayang yang tulus, mereka berhasil menjalin kerjasama dengan Brifif 16/WY sebagai pendonor darah tetap setiap bulan bagi anak-anak penderita Thalasemia.

Malichatun Nafiah, salah satu sosok di balik POPTI Kota Kediri yang memperjuangkan hal tersebut. Karena penderita Thalasemia, ketersediaan darah untuk transfusi menjadi hal yang sangat penting.

Seringkali ketika puasa, atau bebarengan dengan merebaknya kasus demam berdarah, stok darah kosong. Namun berkat kerjasama yang berhasil dijalin dengan Brigif 16/WY sebagai ‘bapak asuh’, ketersediaan darah untuk transfusi Thalasemia bisa tercukupi.

“Kami juga seringkali melakukan gathering dengan para orang tua-orang tua lain yang memiliki anak penderita Thalasemia pula untuk saling support, saling menguatkan dan berbagi ilmu serta motivasi,” kata Malicha, Ketua POPTI Kota Kediri.

Penyakit Thalasemia memang membutuhkan perawatan intensif seumur hidup. Namun bukan berarti mimpi dan masa depan ikut pupus bersamanya. Pemkot Kediri berkomitmen mendorong anak-anak penderita Thalasemia ini bangkit dan mewujudkan mimpi serta cita-citanya.

Rupanya semangat ini mendapatkan perhatian khusus Pemprov Jawa Timur dengan diterimanya penghargaan Top 30 Inovasi Terpuji Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Tahun 2022, Rabu, (7/12) kemarin.

Di akhir wawancara, dr. Reynita mengatakan menjadi orang tua dengan anak menderita Thalasemia tidaklah mudah. Mereka adalah orang-orang yang dipilih Tuhan karena dinilai mampu menyebarkan kebaikan, memantik semangat dan memupuk perjuangan.

“Kota Kediri menuju zero Thalasemia mayor, kita bisa mencegah dengan pre-marital counselling, untuk meminimalisir risiko Thalasemia”pungkasnya.

Sebagai informasi, sejak tahun 2019 di luncurkan, program Putri Lestari ini telah melakukan perawatan terhadap 26 pasien Thalasemia anak, dimana 16 pasien harus mendapatkan prosedur transfusi darah leukodepleted, sedangkan 10 pasien transfusi darah PRC.

Reporter: Gatot Sunarko|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.