03 April 2025

Get In Touch

Jemaah Aolia Gunung Kidul Jogjakarta yang Mengawali Puasa dan Salat Idul Fitri, Ini Respon MUI, PBNU dan PP Muhammadiyah

Jemaah Aolia Salat Idul Fitri 1445 H di Desa Giriharjo, Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DI JogJakarta, Jumat (5/4/2024)(foto/ist)
Jemaah Aolia Salat Idul Fitri 1445 H di Desa Giriharjo, Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DI JogJakarta, Jumat (5/4/2024)(foto/ist)

JAKARTA (Lenteratoday) - Jemaah Aolia di Gunung Kidul, DI Jogjakarta yang telah menggelar Salat Idul Fitri, Jumat(5/4/2024) dan mengawali puasa, Kamis(7/3/2024) menjad polemik dan mendapat respon dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), PBNU hingga PP Muhammadiyah.

Apalagi setelah itu, imam jemaah Aolia Ibnu Hajar Pranolo atau yang kerap disapa Mbah Benu mengatakan sudah 'telepon Allah' terkait pelaksanaan Shalat Idul Fitri.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespon pernyataan yang menetapkan 1 Syawal 1445 H jatuh pada, Jumat (5/4/2024) setelah menelepon Allah SWT. MUI menilai apa yang terjadi di Gunungkidul itu sebuah kesalahan, sehingga perlu diingatkan.

"Kasus pada sebuah komunitas di Gunungkidul itu jelas kesalahan, perlu diingatkan. Bisa jadi dia melakukannya karena ketidaktahuan, maka tugas kita memberi tahu, kalau dia lalai, diingatkan," kata Ketua MUI Asrorun Ni'am kepada wartawan, Sabtu(6/4/2024).

Ni'am bahkan memandang praktik agama tersebut bisa dikatakan menyimpang, jika dilakukan dalam kondisi kesadaran penuh. Sehingga mengikuti praktik tersebut hukumnya haram.

"Kalau praktik keagamaan itu dilakukan dengan kesadaran dan menjadi keyakinan keagamaannya, maka itu termasuk pemahaman dan praktik keagamaan yang menyimpang, mengikutinya haram," tandasnya.

Ni'am menyampaikan puasa Ramadan termasuk dalam ibadah Mahdlah, penentuan awal dan akhir ibadah telah ditetapkan oleh syariah. Pelaksanaannya pun mesti berlandaskan ilmu agama serta keahlian.

"Tidak boleh hanya didasarkan pada kejahilan, bagi yang tidak memiliki ilmu dan keahlian wajib mengikuti yang punya ilmu dan keahlian. Tidak boleh menjalankan ibadah dengan mengikuti orang yang tak punya ilmu di bidangnya," tegas Ni'am.

Selanjutnya Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur buka suara terkait pernyataan Jemaah Aolia di Gunung Kidul yang mengaku menelepon Allah SWT, dalam menetapkan 1 Syawal 1445 Hijriah pada, Jumat(5/4/2024). Menurut Gus Fahrur jemaah tersebut mempermainkan Islam.

"Fenomena kelompok masyarakat Aolia di Gunung Kidul, Jogjakarta yang berhari raya hari Jumat kemarin dengan dalih tokoh panutan mereka berbicara langsung dengan Allah SWT, ini sungguh memprihatinkan, harus dicegah dan tidak boleh terulang kembali," ujar Gus Fahrur dalam keterangannya, Sabtu(6/4/2024).

Gus Fahrur mengajak setiap tokoh agama beribadah sesuai ajaran agama Islam yang benar, menggunakan ilmu dan akal sehatnya. Dia meminta agar tidak ada yang mempermainkan ajaran Islam dan berdalih telah bicara dengan Allah SWT tuturnya.

Gus Fahrur mengatakan agama adalah tuntunan dan ajaran yang berlaku untuk masyarakat umum. Karena itu, setiap orang tidak boleh mengaku asal-asalan.

"Maka tidak bisa seseorang secara asal-asalan ngaku sudah komunikasi langsung dengan Gusti Allah. Pengakuan semacam itu tidak sah dan tidak boleh dijadikan dasar tuntunan agama," ucapnya.

Dia menuturkan dasar ibadah dalam Islam harus sesuai tuntunan syariat yang dipahami dengan ilmu-ilmu standar ajaran agama Islam yang sudah jelas dalil-dalilnya dan garis-garisnya. Menurutnya, semua harus ilmiah, rasional dan dapat diuji keabsahannya oleh masyarakat umum. Dia pun mengimbau agar umat Muslim di Gunungkidul mengikuti anjuran ulama yang benar.

"Tidak semestinya masyarakat gampang percaya pada siapa pun yang mengaku punya hubungan khusus dengan Gusti Allah tapi bertindak tanpa ilmu yang berkesesuaian dengan ketentuan-ketentuan syariat Islam, karena Islam adalah agama yang dijalankan berdasarkan ilmu syariat," tandasnya.

Menurutnya, dengan adanya fenomena ini menjadi salah satu alasan pentingnya pemerintah penetapan awal Ramadan dan 1 Syawal. Hal ini bertujuan agar tidak terus menerus terjadi polemik di berbagai daerah ketika awal dan akhir Ramadan

"Ini mungkin bisa menjadi salah satu alasan untuk dibuat peraturan pemerintah tentang penetapan awal dan akhir Ramadan harus mengikuti keputusan pemerintah, sebagaimana dilakukan di semua negara muslim seluruh dunia," imbuhya.

Kemudian Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir juga angkat bicara soal polemik Jemaah Aolia di Gunung Kidul, Jogjakarta pihaknya mengimbau masyarakat mengedepankan toleransi.

"Di Gunung Kidul dan di tempat lain juga ada yang berbeda, ya kita toleran saja terhadap perbedaan itu," kata Haedar saat diwawancarai wartawan di Kantor PP Muhammadiyah, Jogjakarta, Sabtu(6/4/2024).

Meski demikian, lanjutnya jika ada perbedaan yang terlalu jauh dari dasar ketentuan maka perlu diajak dialog. Dialog bisa melibatkan tokoh setempat, pihak terkait, hingga ormas keagamaan.

"Dan kalau terlalu jauh dari dasar-dasar ketentuan ya nanti perlu diajak dialog, perlu diajak dialog. Kalau ada masalah entah itu menyangkut keagamaan, sosial, coba kedepankan dialog," ujarnya.

Seperti ramai diberitakan, Jemaah Aolia di Gunung Kidul sudah Salat Idul Fitri 2024 pada, Jumat(5/4/2024). Terkait lebih awalnya pelaksanaan Salat Idul Fitri itu, Mbah Benu menerangkan sesuai dengan keyakinannya. Tidak ada metode penghitungan hari dan sebagainya.

Lalu beredar video klarifikasi Imam Jemaah Aolia di Gunung Kidul, Ibnu Hajar Pranolo yang biasa disapa Mbah Benu, viral bilang 'telepon Allah' terkait pelaksanaan Salat Idul Fitri. Mbah Benu menyampaikan klarifikasi bahwa pernyataannya itu hanya istilah perjalanan spiritualnya.

"Terkait pernyataan saya (Jumat, 5/4/2024) tentang istilah menelepon Gusti Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu sebenarnya hanya istilah, bahwa istilah tersebut adalah perjalanan spiritualnya selama ini dalam memeluk agama Islam. Dan yang sebenarnya adalah perjalanan spiritual saya kontak batin dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala," ujar Mbah Benu dalam video yang dibagikan kepada para wartawan.

Dalam video tersebut, Mbah Benu juga menyampaikan permintaan maaf jika kata-katanya sempat membuat suasana menjadi gaduh.

"Apabila pernyataan saya yang menyinggung atau tidak berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak. Terima kasih," tutupnya.

Reporter:arief sukaputra,dtc/Editor:ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.