03 April 2025

Get In Touch

Perusahaan BUMN Terjerat Pinjol Hingga Potensi Merugi Rp 164,8 Miliar

Gedung BPK RI.(foto/ist)
Gedung BPK RI.(foto/ist)

JAKARTA (Lenteratoday) - Berdasarkan hasil temuan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diketahui, jika perusahaan BUMN PT Indofarma Tbk terjerat pinjaman online (pinjol) dan berpotensi merugikan Rp 164,83 miliar.

BPK melaporkan temuan mengejutkan, saat mengaudit kerugian PT Indofarma Tbk dan anak usahanya. BUMN farmasi itu ternyata terjerat pinjol, temuan tersebut telah dilaporkan BPK kepada DPR. Termasuk sejumlah temuan lainnya, terkait aktivitas Indofarma dan anak usahanya, PT IGM yang menyebabkan perusahaan farmasi itu merugi. Laporan itu tertuang dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2023 oleh BPK ke DPR pada, Kamis(6/6/2024).

Dilansir dari detikFinance, Jumat(7/6/2024) ada sejumlah aktivitas yang menyebabkan Indofarma merugi. Aktivitas-aktivitas yang dimaksud antara lain melakukan transaksi jual-beli fiktif, menempatkan dana deposito atas nama pribadi pada Koperasi Simpan Pinjam Nusantara. Melakukan kerja sama pengadaan alat kesehatan tanpa studi kelayakan dan penjualan tanpa analisa kemampuan keuangan customer, hingga melakukan pinjaman online alias pinjol.

Permasalahan tersebut mengakibatkan indikasi kerugian sebesar Rp 294,77 miliar dan potensi kerugian sebesar Rp 164,83 miliar, yang terdiri dari piutang macet sebesar Rp 122,93 miliar, persediaan yang tidak dapat terjual sebesar Rp 23,64 miliar dan beban pajak dari penjualan fiktif FMCG sebesar Rp 18,26 miliar.

Atas permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan kepada direksi Indofarma agar melaporkan ke pemegang saham. Atas pengadaan dan penjualan alat kesehatan teleCTG, masker, PCR, rapid test (panbio) dan isolation transportation yang mengakibatkan indikasi kerugian sebesar Rp 16,35 miliar dan potensi kerugian sebesar Rp 146,57 miliar.

Indofarma juga diminta berkoordinasi dengan pemegang saham dan Kementerian BUMN, untuk melaporkan permasalahan perusahaan dan anak perusahaan. Kepada aparat penegak hukum, dan mengupayakan penagihan piutang macet senilai Rp 122,93 miliar.

Indofarma memang terlihat sedang mengalami masalah keuangan, pada April 2024 kemarin bahkan menunggak pembayaran gaji para karyawan untuk periode Maret 2024. Hal itu disebabkan oleh adanya putusan, Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Perusahaan menyatakan meskipun tidak berdampak secara langsung pada operasional perseroan, akan tetapi perusahaan harus berkoordinasi dengan tim pengurus yang ditunjuk pengadilan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Berita bahwa perseroan belum membayarkan upah karyawan untuk periode Maret 2024 adalah benar," kata Corporate Secretary Indofarma, Warjoko Sumedi seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Editor:Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.