04 April 2025

Get In Touch

Vaksinasi Meningitis Penting Bagi Jamaah Haji Ini Alasannya

Ilustrasi jamaah haji. (foto/ist.Pixabay)
Ilustrasi jamaah haji. (foto/ist.Pixabay)

SURABAYA (Lenteratoday) - Risiko penularan meningitis meningokokus, rentan dialami para jamaah haji. Guna mencegah hal itu, vaksinasi memegang peranan penting dalam langkah pelaksanaan ibadah.

Selain hanya menjadi syarat administratif visa, vaksinasi justru berfungsi sebagai ‘jas hujan’ penularan meningitis dari kerumunan jamaah haji.
Terlebih, banyaknya jumlah jamaah tidak memungkinkan untuk melakukan cek kesehatan secara individu. Hal ini oleh dikarenakan penyakit meningitis memiliki angka kematian dan kecacatan yang tinggi.

Menanggapi hal itu, dokter spesialis Neurologi, Dr Abduloh Machin dr SpN(K) dari Universitas Airlangga (Unair) menyebut tiga penyebab paling umum dari meningitis bakterial akut, yaitu Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, dan Haemophilus influenzae.

Ia mengatakan jika meningitis biasanya ditandai dengan gejala seperti nyeri kepala hebat, demam, mual, dan muntah. Bahkan menurutnya, pasien meningitis bisa membuat kesadaran menurun dan mengalami kejang.

“Meningitis sendiri adalah penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan pada selaput otak, medulla spinalis, dan  jaringan otak. Sehingga dapat menyebabkan kesadaran menurun hingga koma pada penderitanya. Seringkali pasien yang sembuh dari meningitis akan mengalami kecacatan,” ucapnya, Rabu(12/6/2024).

Dr Machin mengungkapkan bahwa vaksin meningitis mengandung patogen yang telah dilemahkan untuk memicu respons imun tubuh. Ia menyebut jika jamaah haji diwajibkan untuk diberikan vaksin Meningokokus Quadrivalent (A,C,Y, W135).

"Di Indonesia dua jenis vaksin meningitis yang beredar yaitu, vaksin polisakarida dan vaksin polisakarida konjugat. Vaksin polisakarida memiliki durasi proteksi 3 hingga 5 tahun dan merupakan pilihan untuk jamaah yang berusia diatas 55 tahun. Sedangkan, vaksin polisakarida konjugat digunakan secara terbatas pada usia 11 hingga 55 tahun,” ungkapnya.

Ia menyebut jika saat ini, Pemerintah Arab Saudi mewajibkan vaksin meningitis dilakukan maksimal 10 hari sebelum keberangkatan dan berlaku selama dua tahun. Menurunnya, kekebalan tubuh terhadap meningitis akan terbentuk secara optimal dalam 10-14 hari.

“Biasanya dua minggu setelah vaksinasi meningitis, antibodi akan terbentuk sempurna dan bisa bertahan hingga dua tahun. Untuk timeline vaksinasi pada anak-anak, sebaiknya harus dengan konsultasi dengan dokter spesialis anak,” sebutnya.

Dr Machin menilai bahwa vaksinasi meningitis dapat diberikan dengan dosis tunggal. Setelah vaksinasi, pasien akan mengalami demam ringan sebagai bentuk proses adaptasi tubuh.

Selain vaksinasi, ia juga menyarankan para jamaah haji untuk menggunakan masker dan menjaga kebersihan selama beribadah di Mekkah. Menurutnya, hal itu berguna untuk mencegah penularan meningitis selama ibadah haji.

“Mengingat penularan meningitis yang terjadi melalui droplet, sangat disarankan bagi jamaah haji untuk tetap memakai masker selama berada di Mekkah. Selain itu, para jamaah sebaiknya selalu menjaga kebersihan dengan langkah-langkah sanitasi dasar,” tuurnya.

Diketahui, dalam mendukung program vaksinasi, saat ini Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) turut mengembangkan vaksin meningitis dan tengah memasuki uji klinis.

“Saat ini kami sedang melakukan uji klinis vaksin meningitis dan diharapkan hasilnya baik, sehingga masyarakat akan memiliki banyak pilihan jenis vaksin meningitis yang akan digunakan,” tukasnya.

Reporter:Amanah/Editor:Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.