07 January 2026

Get In Touch

Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Deteksi Dini TBC Berbasis Suara Batuk

Anggota tim TBCare (kanan) saat melakukan diskusi dengan dokter spesialis paru RSUA terkait protokol dan kelayakan teknis untuk rencana pengambilan data primer.
Anggota tim TBCare (kanan) saat melakukan diskusi dengan dokter spesialis paru RSUA terkait protokol dan kelayakan teknis untuk rencana pengambilan data primer.

SURABAYA (Lentera) -Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengembangkan inovasi skrining Tuberkulosis (TBC) berbasis analisis suara batuk.

TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb) dan umumnya ditandai dengan batuk berkepanjangan selama lebih dari dua hingga tiga minggu. Berangkat dari gejala tersebut, pendekatan berbasis suara batuk dinilai potensial sebagai metode deteksi dini yang efisien dan non-invasif.

Ketua tim, Nathania Cahya Romadhona, mengatakan, inovasi ini hadir guna menjawab keterbatasan akses terhadap alat diagnosis konvensional, terutama di daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas.

Tantangan utama dalam pengolahan suara batuk terletak pada karakteristiknya yang inharmonik dan memiliki pola spektral tidak beraturan. Sementara itu, sebagian besar sistem deteksi yang ada masih bertumpu pada fitur akustik konvensional seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC).

“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih menyeluruh,” ucapnya, Jumat (2/1/2026).

Menjawab tantangan tersebut, tim memanfaatkan metode deep learning dengan mengombinasikan ekstraksi fitur MFCC dan pemodelan Long Short-Term Memory (LSTM). 

Proses validasi suara dilakukan menggunakan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) yang dikenal memiliki performa tinggi dalam klasifikasi suara di berbagai kondisi lingkungan.

Di bawah bimbingan dosen pembimbing Dr. Eng. Dhany Arifianto, ST, MEng, tim yang beranggotakan Nikolas Stanislaus Sanjaya, Faisal Azmi Sirajudin, Miskiyah, dan M. Rizki Dwi Kurnia Putra ini juga merancang perangkat perekam suara batuk berbasis Internet of Things (IoT). 

Perangkat tersebut terintegrasi dengan basis data rumah sakit sehingga memungkinkan pengiriman dan pengelolaan data medis secara berkelanjutan.

“Perangkat ini dirancang sebagai alat pra-skrining TBC yang portabel dan mudah digunakan oleh kader kesehatan di berbagai daerah,” jelasnya.

Berdasarkan hasil uji validasi medis, sistem TBCare mampu mengklasifikasikan batuk tuberkulosis dengan tingkat sensitivitas mencapai 76 persen. Pengujian dilakukan menggunakan data primer dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), dengan tingkat kesiapterapan teknologi (TKT) berada pada level 6.

Atas capaian tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kategori Karsa Cipta (KC) ITS berhasil meraih medali emas pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2025. 

"Lewat inovasi TBCare ini, kami berharap dapat menjadi bagian dari upaya nasional dalam mendukung eliminasi penyakit TBC di Indonesia pada tahun 2030," harapnya. 

tek

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.