SEMARANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiagakan 220 pompa air, baik pompa tetap maupun portabel sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi banjir.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan bahwa pompa-pompa air tersebut, ditempatkan di seluruh titik rawan. Dari 220 pompa air, terdiri atas 119 pompa tetap dan 101 pompa portabel, termasuk penambahan pompa baru di Tawang Mas dan Peterongan.
Pihaknya belajar dari pengalaman banjir di penghujung 2024- 2025, untuk menghadapi puncak musim hujan awal 2026. Ia mengatakan, langkah antisipasi yang diambil tak lagi sekadar respons darurat, melainkan dengan perbaikan infrastruktur permanen.
"Kami tidak hanya menyiapkan alat, tetapi telah membenahi akar masalahnya," ujarnya di Semarang merilis Antara, Senin (5/1/2026).
Dijelaskannya, si wilayah Kaligawe telah dilakukan pelebaran empat kali lipat outlet dari 10 meter menjadi 40 meter yang diharapkan dapat mengalirkan air secara optimal dan mencegah terulangnya genangan parah seperti yang terjadi sebelumnya.
Kemudian, dilakukan pula pemutakhiran sistem polder, dengan mengeruk dan menperdalam puluhan "umpung-umpung" (waduk mini) di kawasan Mijen, seperti di Jatingaleh.
Untuk melengkapi infrastruktur tetap, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga memperkuat armadanya dengan pompa-pompa baru yang ditempatkan di titik-titik rawan, seperti Tawang Mas dan Peterongan.
"Selain itu, pembersihan dan normalisasi saluran utama secara intensif terus dilakukan di daerah-daerah, seperti Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Pandanaran, dan sepanjang Banjir Kanal Timur untuk menjaga kelancaran aliran air," jelasnya.
Agustina menekankan, bahwa keberhasilan penanganan banjir di kota Semarang adalah buah dari kolaborasi yang solid, melampaui batas kewenangan administratif.
Koordinasi rutin juga terus dijalin dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai), BPJN, Kodim, dan instansi terkait lainnya guna memastikan respons yang terintegrasi dan cepat.
Di luar upaya teknis dan kolaborasi institusional, ia mengajak seluruh warga kota Semarang untuk menjadi mitra aktif dalam upaya pencegahan banjir.
"Kesiapan teknis pemerintah harus diimbangi dengan kesadaran kolektif warga untuk tidak membuang sampah ke saluran air dan menjaga kebersihan lingkungan," tandasnya.
Editor: Arief Sukaputra





