JAKARTA (Lentera) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meresmikan 41 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) NU yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel, Labuapi, Nusa Tenggara Barat, sebagai langkah memperkuat kemandirian pesantren.
“Program ini hadir untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia pesantren agar lahir generasi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dalam keterangannya di Jakarta mengutip Antara, Minggu (22/2/2026).
Peresmian SPPG di Lombok tersebut menandai langkah keempat dalam rangkaian peluncuran SPPG oleh TKA-PBNU setelah sebelumnya dilaksanakan di Cirebon, Jember, dan Batang.
Gus Yahya mengungkapkan, kerja sama dengan BGN telah dimulai sejak peringatan Harlah ke-102 NU pada awal Februari lalu.
Target untuk membangun 1.000 titik SPPG di seluruh Indonesia bukan sekadar kesepakatan lembaga, melainkan bentuk komitmen nyata dalam mendukung program strategis Presiden.
“Data menunjukkan banyak santri kita yang kenyang secara kuantitas namun masih mengalami masalah kesehatan seperti anemia karena gizi yang tidak seimbang,” ujar Gus Yahya.
Ketua Tanfidziyah PWNU NTB TGH. Masnun Tahir menyampaikan kehadiran program ini di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel, merupakan keberlanjutan dari marwah perjuangan Datuk Bengkel, Rais Syuriah pertama PWNU NTB.
Ia menegaskan, sinergi dengan pemerintah adalah komitmen tak terpisahkan dari NU. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini dipandang sebagai bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang selaras dengan visi besar PBNU.
Sementara itu, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menyoroti dampak ekonomi mikro yang tercipta dari kehadiran dapur-dapur di pesantren tersebut. Menurutnya, model ini membalik paradigma pembangunan dari hilir ke hulu.
Penyerapan bahan pangan dari petani, peternak, dan UMKM lokal secara langsung memberikan jaminan pasar yang stabil.
“Pesantren akan menjadi basis baru kekuatan ekonomi umat. Dimulai dari SPPG, kita berharap ini merambah ke kemandirian peternakan dan pertanian di lingkungan pesantren. Jika ini terjadi, kekuatan ekonomi rakyat akan tercipta secara masif,” kata Gubernur Iqbal.
Badan Gizi Nasional melalui Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 2, Nurjaeni memberikan apresiasi atas pencapaian PBNU. Ia menyebutkan, SPPG bukan hanya tempat penyediaan makanan halal dan aman bagi santri, tetapi juga diproyeksikan sebagai Center of Excellence atau pusat perubahan perilaku gizi.
Saat ini terdapat 188 SPPG yang telah berdiri, dan 205 lainnya dalam tahap persiapan. Beberapa di antaranya diharapkan bisa di-SK-kan, sebagai unit percontohan nasional yang nantinya menjadi rujukan bagi delegasi negara-negara ASEAN yang berminat mempelajari implementasi program gizi di Indonesia.
Editor: Arief Sukaputra





