02 April 2026

Get In Touch

BPS: Inflasi Maret 2026 Tercatat 0,41 Persen, TPID Kota Kediri Perkuat Stok dan Distribusi Pangan

Gerakan Pangan Murah digelar Pemkot Kediri untuk mengendalikan inflasi.
Gerakan Pangan Murah digelar Pemkot Kediri untuk mengendalikan inflasi.

KEDIRI (Lentera) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri secara resmi merilis Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan capaian inflasi Kota Kediri periode Maret 2026. 

Kepala BPS Kota Kediri, Emil Wahyudiono menyampaikan bahwa di bulan Maret 2026, Kota Kediri mengalami inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 4,03 persen dengan nilai IHK mencapai 110,41. 

"Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) tercatat sebesar 0,41 persen," ujarnya dalam rilis secara daring melalui Zoom Meeting, pada Rabu (1/4/2026) dikutip, Kamis (2/4/2026). 

Dijelaskan Emil, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi dinamika harga pada Maret 2026. Diantaranya, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang mulai berlaku sejak 1 Maret 2026. 

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan, seperti cabai merah yang terus meningkat disepanjang bulan. Permintaan komoditas pangan juga mengalami peningkatan, terutama selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri. 

Komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras dan daging sapi mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Di sektor transportasi, terjadi kenaikan tarif angkutan udara, angkutan antar kota dan kendaraan travel. Berbeda dengan tarif kereta api yang justru mengalami penurunan. 

"Sementara itu, harga emas perhiasan juga tercatat mengalami penurunan di sepanjang bulan Maret, sebagai dampak kondisi perekonomian global serta konflik geopolitik yang masih berlangsung," jelasnya.

Lebih lanjut, Emil menyebutkan beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi month to month (m-to-m). Antara lain daging ayam ras yang menjadi komoditas penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,07 persen, dan tingkat inflasi komoditas mencapai 3,56 persen. 

Selanjutnya bensin dan angkutan antar kota yang masing-masing menyumbang 0,04 persen; minyak goreng sebesar 0,03 persen; tomat, kangkung dan daging sapi masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen. 

Sementara beras, bayam, Sigaret Kretek Mesin (SKM), jagung manis, alpukat, jeruk, donat, bawang merah, serta tarif kendaraan travel masing-masing menyumbang 0,01 persen. 

"Sedangkan komoditas penahan inflasi bulan Maret diantaranya cabai rawit sebesar -0,03 persen, tarif kereta api, bawang putih dan minyak goreng sebesar -0,01 persen," terangnya.

Memasuki April 2026, Emil memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi kepada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri. Ia menekankan, pentingnya menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi komoditas pangan pasca perayaan Idul Fitri khususnya untuk komoditas beras, daging ayam ras dan telur ayam ras. 

"Operasional SPPG MBG juga perlu diperhatikan, karena diperkirakan dapat mempengaruhi permintaan pasar seiring kembali normalnya kegiatan belajar mengajar setelah bulan Ramadan," tandasnya. 

Penyesuaian harga BBM non subsidi juga diperkirakan masih berlanjut, akibat dinamika harga minyak dunia yang erat kaitannya dengan kondisi geopolitik global. 

Di sisi lain, harga emas secara global diperkirakan masih berpotensi mengalami penurunan sebagai dampak geopolitik yang masih terjadi. Sementara tarif angkutan antar kota, kereta api dan angkutan udara diperkirakan akan kembali normal setelah berakhirnya periode Idul Fitri.

Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian selaku sekretaris Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, Bambang Tri Lasmono menyampaikan bahwa pada bulan Maret terjadi deflasi pada komoditas cabe rawit sebesar 0,03 persen, dimana pada bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,32 persen. 

Hal ini dampak dari beberapa upaya yang sudah dilaksanakan oleh Tim TPID Kota Kediri, seperti Operasi Pasar Murni, Gerakan Pangan Murah, sidak ketersediaan bahan pangan, serta koordinasi ke beberapa petani dan penjual sehingga harga cabai rawit dapat normal kembali. 

Selain komoditas cabai rawit, hal ini juga berdampak kepada stabilitas harga komoditas bahan pangan lainnya. 

"Kedepan diharapkan harga komoditas bahan pokok masih tetap stabil, ditengah kondisi geopolitik Internasional yang tidak menentu yang berdampak pada kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dunia sehingga berpotensi menjadi penyumbang inflasi," tuturnya.

Ia menghimbau, agar  masyarakat senantiasa berbelanja bijak sesuai kebutuhan dan tidak panic buying. Pemerintah akan terus berusaha untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas serta kestabilan harga pungkasnya.

 

 

Reporter: Ais/Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.