SURABAYA (Lentera) - Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan dihentikan sementara, pasca insiden dugaan keracunan massal yang dialami ratusan siswa sekolah dasar, usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diolah SPPG tersebut.
Menyikapi dugaan keracunan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi penyedia makanan, SPPG Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Senin (11/5/2026) sore.
"Kita tunggu dari tim kesehatan yang sedang melakukan investigasi. Tadi dari Dinas Kesehatan Surabaya sudah datang, dari tingkat provinsi juga sudah turun. Kita tidak bisa menjustifikasi si A salah, tidak," kata Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji.
Pria yang akrab disapa Cak Ji ini didampingi anggota DPRD Kota Surabaya, Abdul Malik dan Budi Leksono. Mereka memeriksa langsung kondisi dapur, proses pengolahan makanan, hingga kelayakan fasilitas penyimpanan dan distribusi menu MBG.
Cak Ji mengatakan, Pemkot Surabaya belum ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab insiden sebelum hasil investigasi dari tim kesehatan keluar.
Meski demikian, dari hasil peninjauan sementara, ia menilai kondisi dapur dan fasilitas pengolahan makanan di SPPG Tembok Dukuh terlihat memenuhi standar kebersihan dan operasional.
"Kami turun untuk melihat langsung mulai proses pemasakan, kondisi dapur, tempat pengolahan, hingga wadah ompreng. Secara fisik semuanya memenuhi syarat dan sangat bersih," tambahnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida, mengatakan pihaknya memutuskan menghentikan sementara seluruh aktivitas produksi makanan sebagai langkah evaluasi menyeluruh.
"Kami berhenti operasional dulu untuk evaluasi sampai semua benar-benar baik. Baru nanti kita lihat kelanjutannya seperti apa. Yang jelas, kami menunggu hasil uji sampel keluar," kata Chafi.
Ia juga memastikan seluruh dokumen legalitas dan sertifikasi dapur telah dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku. "Sertifikasi sudah lengkap semua. Kejadian ini benar-benar di luar kontrol kami," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi




