JAKARTA (Lentera) - Tersungkurnya nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) memperingatkan kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mengintai, apabila berlangsung dalam waktu lama.
"Seluruh harga barang, baik bahan baku, barang modal, maupun barang konsumsi, menjadi semakin mahal," ujar Ketua Umum GINSI, Subandi, mengutip laporan Bloomberg, Kamis (14/5/2026).
Dikatakannya, mayoritas transaksi impor menggunakan dolar AS, sehingga setiap pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya pembelian barang dari luar negeri.
Tak hanya biaya pembelian, beban importir juga bertambah akibat kenaikan ongkos logistik internasional. Biaya seperti surcharge dan freight atau ongkos kapal turut melonjak di tengah tekanan kurs.
Di sisi lain, daya beli masyarakat dinilai masih lemah. Kondisi ini menyebabkan produk yang masuk ke pasar tidak terserap optimal, sehingga pelaku usaha menghadapi tekanan ganda, yakni biaya naik, tetapi penjualan melambat.
"Hal ini bisa menyebabkan pengurangan volume impor, penurunan produksi, pengurangan ukuran dan kualitas produk, maupun kenaikan harga jual," kata Subandi.
Ia menegaskan, jika pelemahan rupiah terus berlanjut, dunia usaha tidak menutup kemungkinan akan mengambil langkah efisiensi, termasuk merumahkan pekerja hingga melakukan PHK. "Jika kondisi ini terus berlangsung, pelaku usaha terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja," katanya.
Subandi meminta pemerintah dan otoritas moneter segera melakukan langkah intervensi agar nilai tukar rupiah tidak semakin terpuruk terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS.
"Kami berharap pemerintah dapat melakukan intervensi agar nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak semakin melemah," tuturnya.
Sementara itu, pergerakan rupiah di pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) menunjukkan sinyal stabilisasi. Pada Kamis (14/5/2026) pagi, rupiah dibuka di level Rp17.513 per dolar AS dan sempat menguat tipis 0,07 persen ke posisi Rp17.506 per dolar AS pada pukul 08.30 WIB.
Penguatan terbatas tersebut terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS sebesar 0,06 persen ke level 98,46. Di kawasan Asia, sejumlah mata uang seperti ringgit Malaysia, yuan offshore, dan baht Thailand juga mencatat penguatan.
Meski demikian, rupiah tidak diperdagangkan di pasar spot domestik pada Kamis karena libur nasional dan cuti bersama. Pergerakan di pasar offshore pun menjadi acuan utama bagi pelaku pasar untuk membaca arah rupiah pada pembukaan perdagangan berikutnya.
Sebagai informasi, pada perdagangan terakhir Rabu (13/5/2026), rupiah spot ditutup menguat 0,2 persen ke level Rp17.465 per dolar AS, mengakhiri tren pelemahan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut.
Editor: Santi





