24 May 2026

Get In Touch

Dokter Lulusan Unusa Via Dwi Alfiana, Terinspirasi Orang Tua dan Ingin Mengabdi untuk Tanah Kelahiran

Dokter Via Dwi Alfiana.
Dokter Via Dwi Alfiana.

SURABAYA (Lentera) – Di balik senyum tenang Dokter Via Dwi Alfiana saat mengucap sumpah dokter di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), tersimpan perjuangan panjang yang penuh perjuangan, doa, dan keteguhan hati. 

Perempuan asal Desa Sengkol, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat itu akhirnya resmi menyandang gelar dokter, setelah melewati berbagai tantangan selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK) Unusa.

Bagi Via, menjadi dokter bukan sekadar meraih profesi bergengsi. Impian itu tumbuh sejak kecil dari rumah sederhana tempat ia dibesarkan. Ayahnya bekerja sebagai perawat, sementara sang ibu mengabdikan diri sebagai bidan desa. 

Dari keduanya, Via belajar arti kepedulian dan pengorbanan untuk sesama.

Ia masih mengingat, bagaimana ibunya kerap dipanggil warga tengah malam untuk membantu persalinan, sementara ayahnya tetap berangkat bekerja meski dalam kondisi lelah. Pemandangan itu tertanam kuat dalam ingatannya, dan perlahan membentuk cita-cita yang kini berhasil ia wujudkan.

“Sejak kecil saya melihat bagaimana orang tua membantu pasien dengan penuh kesabaran dan kepedulian. Dari situlah saya terinspirasi untuk menekuni dunia kedokteran,” ujar Via, Jumat (22/5/2026).

Masa kecilnya di Desa Sengkol, diwarnai suasana hangat kehidupan desa yang penuh rasa kekeluargaan. Lingkungan yang sederhana justru membuatnya memahami bahwa masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses kesehatan memadai.

Kesadaran itulah yang mendorong Via merantau ke Surabaya untuk menempuh pendidikan kedokteran. Jauh dari keluarga untuk pertama kalinya bukan perkara mudah, harus belajar mandiri menghadapi jadwal kuliah yang padat, tekanan akademik, hingga rasa rindu pada kampung halaman.

“Tentu pernah merasa ingin menyerah. Ada masa ketika tugas sangat banyak dan tekanan cukup besar. Tapi saya selalu mengingat tujuan awal saya, dan dukungan keluarga menjadi sumber semangat terbesar,” tuturnya.

Perjuangan panjang itu akhirnya terbayar saat Via resmi dilantik menjadi dokter. Momen tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya, sebab ia merupakan dokter pertama di keluarga besar mereka.

“Gelar ini menjadi kebahagiaan besar bagi saya dan keluarga. Saat pertama kali merawat pasien, saya merasa ilmu yang dipelajari selama ini akhirnya bisa digunakan untuk membantu orang lain,” ungkapnya.

Namun baginya, perjalanan ini belum selesai. Ia menyimpan mimpi besar untuk kembali ke tanah kelahirannya di Lombok dan mengabdi bagi masyarakat di daerah asalnya. Menurutnya, masih banyak wilayah yang membutuhkan peningkatan layanan kesehatan dan edukasi masyarakat tentang pentingnya pencegahan penyakit.

Ia ingin hadir bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai bagian dari harapan baru bagi masyarakat desa. “Saya ingin memberikan pelayanan kesehatan yang baik, meningkatkan edukasi masyarakat, serta membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan sejak dini,” ujarnya penuh harap.

Kisah Via menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari desa kecil. Dengan kerja keras, disiplin, dan doa, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk meraih cita-cita dan memberi manfaat bagi banyak orang.

“Jangan takut bermimpi besar. Asal disertai kerja keras, disiplin, dan doa, tidak ada yang tidak mungkin,” pesannya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.