26 May 2026

Get In Touch

El Nino Bayangi Target Peremajaan Ribuan Hektare Pertanian Tebu di Malang

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Ancaman El Nino membayangi target Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dalam merealisasikan program peremajaan tanaman tebu seluas 7.500 hektare pada tahun 2026. Penurunan curah hujan yang diprediksi terjadi sejak pertengahan Mei membuat pemerintah daerah harus ekstra selektif menentukan lahan tanam, terutama terkait ketersediaan air.

"Insya Allah nanti musim tanam raya sebenarnya sudah ada mulai Agustus 2026, tetapi secara masif itu baru di September. Tetapi di Agustus nanti kami olah lahan. Diharapkan November sudah selesai," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera, Minggu (24/5/2026).

Menurutnya, saat ini pemerintah telah menyiapkan lebih dari 100 hektare lahan kebun bibit di wilayah Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen. Persiapan lebih awal dilakukan agar keterlambatan tanam seperti tahun sebelumnya bisa diminimalisir.

Meski demikian, Avicenna menegaskan tidak semua lahan bisa digunakan untuk program peremajaan atau bongkar ratoon. Pemerintah daerah memprioritaskan lahan yang memiliki tingkat kesuburan baik dan pasokan air yang memadai selama awal musim tanam.

"Yang penting subur dan airnya mencukupi. Karena pada saat dua bulan musim tanam awal, air harus masih ada atau sudah mulai musim hujan," jelasnya.

Ia mengakui, ancaman El Nino membuat pemerintah harus lebih berhati-hati dalam menyusun strategi tanam tahun ini. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan diperkirakan mulai menurun sejak pertengahan Mei.

"Karena saat ini kita menghadapi ancaman El Nino. Berarti musim hujan terakhir, walaupun kenyataannya memang masih ada. Tetapi dari perkiraan BMKG, sejak Mei pertengahan itu curah hujan sudah mulai turun, itu harus hati-hati," ungkapnya.

Lebih lanjut, Avicenna menyebut Pemkab Malang menargetkan luasan bongkar ratoon mencapai 7.500 hektare pada 2026 ini. Namun berdasarkan hasil pemetaan awal, potensi realisasi di lapangan diperkirakan masih berada di kisaran 5.000 hingga 5.200 hektare.

"Artinya yang bisa kami realisasi sekitar 5 ribu sampai 5.200 dengan asumsi dua pabrik gula (PG)," terang Avicenna.

Target tersebut meningkat cukup signifikan dibanding realisasi program bongkar ratoon pada 2025 lalu yang mencapai sekitar 1.700 hektare. Menurut Avicenna, capaian tahun lalu sebagian besar berasal dari hasil pendataan penyuluh pertanian di lapangan.

Namun, pihaknya masih harus melakukan survei lebih detail guna memastikan kesiapan lahan dan meminimalisasi perubahan data saat pelaksanaan program berlangsung.

Hingga saat ini, sekitar 1.300 hektare lahan telah ditetapkan melalui surat keputusan (SK). Sementara sekitar 900 hektare lainnya masih berada dalam tahap pendataan dan verifikasi.

Di sisi lain, Pemkab Malang juga berupaya menjaga stabilitas produksi tebu daerah di tengah ancaman cuaca ekstrem. Pada 2025 lalu, produksi tebu Kabupaten Malang tercatat mencapai sekitar 4,3 juta ton dengan luas lahan sekitar 48 ribu hektare.

"Kami kemarin 4,3 juta ton kurang lebih. Luas lahan sekitar 48.000 hektare itu perhitungan di 2025. Tahun ini kami lihat lagi nanti. Tetapi paling tidak targetnya sama dengan capaian di 2025," jelas Avicenna.

Selain produksi, peningkatan rendemen tebu juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Menurutnya, efisiensi pabrik gula menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan pendapatan petani.

Avicenna menyebut sebagian besar pabrik gula yang ada saat ini telah berusia tua sehingga opsi revitalisasi mulai dipertimbangkan. Bahkan, Pemkab Malang membuka peluang pembangunan pabrik gula baru apabila ada dukungan program dari pemerintah pusat.

"Kalau mungkin pusat punya program pembangunan pabrik baru, Pak Bupati ingin satu ada di Kabupaten Malang," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.