SURABAYA ( LENTERA ) - Sebuah temuan astronomi terbaru mencatat fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana Bumi menerima sinyal radio dari Matahari secara terus-menerus selama 19 hari berturut-turut. Peristiwa ini menjadi rekor baru dalam pengamatan aktivitas Matahari dan sekaligus membuka pertanyaan ilmiah baru mengenai mekanisme di atmosfer bintang pusat tata surya tersebut.
Disebutkan, sinyal radio tersebut terekam oleh berbagai perangkat pengamatan canggih yang dirancang untuk memantau aktivitas elektromagnetik Matahari, mulai dari permukaan hingga lapisan terluarnya yang disebut korona.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa sinyal radio dari Matahari umumnya muncul akibat interaksi kompleks antara medan magnet raksasa dengan partikel bermuatan yang bergerak cepat di atmosfernya. Dalam kondisi normal, fenomena ini biasanya berkaitan dengan ledakan matahari atau pelepasan massa korona yang besar, namun kali ini terjadi hal yang berbeda.
“Peristiwa ini adalah ledakan gelombang radio matahari terlama yang pernah tercatat ilmuwan hingga saat ini,” demikian laporan. Ditegaskan bahwa sinyal tersebut berlangsung jauh lebih lama dibandingkan biasanya yang hanya hitungan jam hingga beberapa hari.
Menariknya, selama periode pengamatan hampir tiga minggu tersebut, tidak ditemukan adanya aktivitas letusan besar atau ledakan energi masif yang biasanya menjadi pemicu utama sinyal radio Matahari. Hal ini membuat para peneliti menduga adanya mekanisme fisika lain yang bekerja secara stabil di dalam struktur magnetik Matahari.
Menurut para peneliti, kemungkinan besar sinyal ini berasal dari wilayah tertentu di atmosfer Matahari yang memiliki kondisi suhu dan kepadatan khusus, sehingga memungkinkan gelombang elektromagnetik dipancarkan secara terus-menerus tanpa gangguan berarti dalam waktu yang lama.
Fenomena ini tidak hanya menjadi catatan rekor, tetapi juga memiliki implikasi penting bagi kehidupan di Bumi. Gelombang radio Matahari diketahui dapat memengaruhi sistem teknologi, termasuk jaringan komunikasi, navigasi satelit, hingga sistem kelistrikan global.
Meski demikian, sinyal yang terdeteksi kali ini tidak menimbulkan gangguan signifikan terhadap infrastruktur di Bumi. Para ilmuwan menilai bahwa pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan prediksi terhadap aktivitas Matahari di masa depan.
Saat ini, tim peneliti masih terus menganalisis data yang terkumpul selama 19 hari tersebut untuk mengidentifikasi sumber pasti sinyal dan memahami kondisi fisik di korona Matahari yang memungkinkan peristiwa unik ini terjadi.
Temuan ini kembali menegaskan bahwa Matahari masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya dipahami, dan setiap pengamatan baru memberikan wawasan tambahan bagi ilmu pengetahuan tentang dinamika bintang yang menjadi sumber utama kehidupan di Bumi.
Sinyal 44 Menit
Sebelumnya Bumi dilaporkan menerima sinyal misterius dari luar angkasa yang muncul secara periodik setiap 44 menit. Sinyal tersebut diduga berasal dari sebuah objek antariksa yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi, menambah daftar panjang misteri alam semesta yang belum terpecahkan.
Laporan yang dipublikasikan Liputan6.com pada 3 Juni 2025 menyebutkan bahwa objek tersebut diberi nama ASKAP J1832-0911. Objek ini pertama kali terdeteksi oleh tim astronom internasional melalui Australian Square Kilometre Array Pathfinder (ASKAP) di Australia, serta observatorium sinar-X milik NASA, Chandra X-ray Observatory.
Para peneliti menemukan pola sinyal yang sangat tidak biasa, yakni berupa ledakan gelombang radio dan sinar-X yang berlangsung sekitar dua menit, lalu menghilang, dan kembali muncul setiap 44 menit secara konsisten.
“Para astronom menangkap gelombang radio dan sinar-X yang datang dari satu titik di langit dengan pola yang sangat tidak biasa,” demikian laporan Liputan6.com yang mengutip Live Science, menjelaskan karakteristik sinyal tersebut.
Fenomena ini tidak menyerupai pulsar biasa, yaitu bintang neutron yang biasanya memancarkan sinyal dengan frekuensi sangat cepat, bahkan beberapa kali per detik. Sebaliknya, ASKAP J1832-0911 masuk dalam kategori langka yang disebut long-period transients (LPT), yaitu objek kosmik yang memancarkan sinyal dengan periode sangat panjang.
Kategori LPT sendiri baru ditemukan pada 2022, dan hingga kini hanya sekitar sepuluh objek yang berhasil teridentifikasi. ASKAP J1832-0911 menjadi temuan yang istimewa karena merupakan LPT pertama yang diketahui memancarkan sinar-X selain gelombang radio.
“Biasanya, objek yang memancarkan sinyal seperti ini hanya mengirimkan gelombang radio.
Namun dalam kasus ini, bumi menerima sinyal radio dan sinar-X secara bersamaan,” tulis laporan tersebut.
Penemuan ini dianggap sebagai keberuntungan besar bagi para ilmuwan, karena dua instrumen observasi berbeda,,ASKAP dan Chandra, secara kebetulan mengamati wilayah langit yang sama pada waktu bersamaan, sehingga memungkinkan deteksi sinyal ganda yang sangat langka.(ist/dya)




