25 May 2026

Get In Touch

Pemkab Malang Waspadai Dampak El Nino, Nelayan Diminta Waspada Sebelum Melaut

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) -Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mewaspadai dampak El Nino terhadap sektor perikanan, baik perikanan tangkap laut maupun budidaya (air tawar).

"Namanya gejala alam, pasti akan berpengaruh. Padahal kami melihat sekarang ini sudah mulai ada musim ikan, mudah-mudahan saja kalau dari sisi ikan tangkap, tidak berpengaruh," ujar Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, kekhawatiran terbesar bukan pada ketersediaan ikan di laut, melainkan terhadap aktivitas para nelayan di wilayah Kabupaten Malang, yang berpotensi terganggu apabila kondisi cuaca memburuk selama musim kemarau.

Victor menjelaskan, wilayah pesisir selatan Kabupaten Malang yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia membuat nelayan cukup rentan terhadap perubahan kondisi cuaca laut. 

Karena itu, para nelayan diminta lebih waspada sebelum melaut. Terutama dengan rutin memperbarui informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Yang dikhawatirkan adalah nelayannya. Khawatir tidak bisa melaut karena efek gelombang yang tinggi. Tetapi mudah-mudahan saja tidak berdampak pada gelombang laut," katanya.

Victor menyebut, nelayan di Kabupaten Malang saat ini sudah mulai terbiasa memantau informasi tinggi gelombang dan kondisi cuaca sebelum berangkat melaut.

Selain sektor tangkap laut, kondisi cuaca yang tidak menentu juga menjadi perhatian serius pada sektor budidaya air tawar. Victor mengungkapkan, pola cuaca yang berubah-ubah selama musim kemarau membuat pembudidaya harus lebih adaptif dalam menjaga kualitas air kolam dan kesehatan ikan.

Perubahan cuaca ekstrem selama musim kemarau dinilai berpotensi mengganggu aktivitas nelayan hingga menurunkan produktivitas perikanan budidaya.

Ia mencontohkan, hujan yang masih turun meski sudah memasuki musim kemarau dapat memengaruhi kondisi air kolam budidaya. Karena itu, pembudidaya didorong memaksimalkan teknologi budidaya agar produksi tetap berjalan.

"Saat air hujan datang, apa yang harus ditreatment terhadap air supaya tidak mengganggu ikan, itu sudah harus disiapkan," ungkapnya.

Tidak hanya itu, perubahan suhu yang terjadi secara mendadak juga disebut dapat memengaruhi pertumbuhan ikan budidaya. Salah satu langkah yang dilakukan pembudidaya, yakni mengatur ketinggian air kolam agar cahaya matahari tetap masuk dan membantu menjaga kestabilan suhu air.

"Pokoknya teknologi budidaya itu yang harus dimaksimalkan," terang Victor.

Menurutnya, Dinas Perikanan telah melakukan pendampingan kepada para pembudidaya terkait langkah antisipasi menghadapi cuaca ekstrem. Para pembudidaya disebut mulai memahami penanganan teknis untuk menjaga produktivitas ikan di tengah perubahan cuaca.

Meski demikian, Victor mengakui produktivitas budidaya ikan air tawar tetap berpotensi mengalami penurunan akibat cuaca ekstrem. Namun ia memastikan aktivitas produksi masih tetap dapat berlangsung.

"Memang produktivitas akan menurun karena cuaca ekstrem. Tetapi tetap bisa produksi," tegasnya.

Sebagai informasi, produksi perikanan budidaya di Kabupaten Malang pada tahun 2025 tercatat mencapai 13.264 ton. Komoditas ikan nila dan lele masih menjadi penyumbang produksi terbesar di sektor perikanan air tawar.

Sedangkan untuk sektor perikanan tangkap Kabupaten Malang pada tahun 2025 tercatat cukup tinggi, dengan total produksi mencapai 28.430 ton. Dari jumlah tersebut, komoditas ikan tongkol dan ikan layur menjadi hasil tangkapan terbesar dengan produksi masing-masing mencapai lebih dari 6.000 ton.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.