29 May 2026

Get In Touch

Jelang SPMB 2026, Dispendik Surabaya Minta Orang Tua Maksimalkan Masa Simulasi

Ilustrasi wali murid saat melakukan uji coba Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Ilustrasi wali murid saat melakukan uji coba Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.

SURABAYA (Lentera) –-Antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan uji coba Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kota Surabaya terus meningkat. Hingga memasuki hari kelima pelaksanaan, ribuan orang tua murid tercatat mendatangi posko pelayanan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya maupun posko di sekolah untuk melakukan verifikasi data, konsultasi jalur pendaftaran, hingga memastikan kelengkapan dokumen administrasi.

Masa uji coba SPMB Surabaya sendiri berlangsung mulai 22 hingga 28 Mei 2026 sebagai simulasi sebelum pelaksanaan resmi penerimaan murid baru. Selama periode tersebut, masyarakat diberi kesempatan untuk mencoba sistem pendaftaran sekaligus menyelesaikan berbagai kendala teknis sejak dini.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan tingginya jumlah warga yang memanfaatkan layanan posko menunjukkan besarnya perhatian orang tua terhadap proses penerimaan peserta didik tahun ini.

“Hari pertama dibuka saja sudah ribuan yang memanfaatkan layanan. Sampai hari ini jumlahnya terus bertambah karena setiap hari selalu ada warga yang datang untuk konsultasi maupun verifikasi,” kata Febrina, Selasa (26/5/2026).

Menurut Febri, sebagian besar persoalan yang muncul masih berkaitan dengan aspek teknis dan administrasi. Mulai dari validasi dokumen kependudukan, persoalan domisili, hingga pemahaman orang tua mengenai jalur penerimaan yang tersedia.

Ia mencontohkan, terdapat sejumlah kasus khusus seperti anak yang tinggal bersama nenek atau keluarga lain sehingga membutuhkan penyesuaian dokumen sesuai ketentuan yang berlaku.

“Ada banyak orang tua dengan permasalahan tertentu, misalnya anak tinggal dengan neneknya. Itu berkaitan dengan ketentuan administrasi. Kami jelaskan kembali bahwa ada empat metode atau jalur yang bisa digunakan. Selain itu, masalah jarak rumah dan domisili juga masih menjadi pertanyaan utama,” jelasnya.

Meski banyak konsultasi yang masuk, Dispendik memastikan secara umum sistem aplikasi SPMB berjalan stabil selama masa simulasi. Gangguan yang terjadi disebut lebih banyak disebabkan oleh perangkat milik pengguna, bukan dari sistem utama.

“Alhamdulillah sistem berjalan lancar. Tidak ada kendala eror berjam-jam. Kalau ada masalah biasanya karena faktor gawai atau alat yang digunakan secara mandiri. Saat dicoba di posko kami, semuanya berjalan aman,” ujarnya.

Febri pun mengimbau para orang tua agar memanfaatkan sisa masa uji coba secara maksimal. Ia meminta masyarakat lebih teliti dalam memeriksa dokumen dan memahami seluruh tahapan pendaftaran agar tidak mengalami kendala saat pelaksanaan resmi nanti.

“Jangan menggampangkan proses ini. Pastikan dokumen benar dan pahami tahapannya. Kadang anak-anak mau submit saja takut kalau tidak didampingi. Karena itu orang tua harus benar-benar peduli dan cermat supaya saat hari H semua data sudah siap,” tegasnya.

Selain itu, Febri mengungkapkan mayoritas orang tua masih menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan utama. Namun, ia menilai kualitas sekolah swasta di Surabaya saat ini juga semakin kompetitif karena mendapat dukungan dari pemerintah kota.

Pemkot Surabaya, terus mendorong pemerataan kualitas pendidikan melalui berbagai dukungan, termasuk bantuan dana Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (Bopda) bagi sekolah swasta.

“Kalau di negeri belum beruntung, sekolah swasta terdekat juga bisa menjadi pilihan karena pola pembinaannya sama. Kami memberikan dukungan, termasuk melalui Bopda. Sekolah swasta juga terus meningkatkan mutu pendidikan mereka,” pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.