30 May 2026

Get In Touch

Dua Dekade Lumpur Sidoarjo, Pakar ITS Soroti Ancaman Ekologis Sungai Porong

Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi ketika menjelaskan pengaruh pengaliran Lumpur Sidoarjo ke Sungai Porong terhadap kondisi perairan dan biota air di sekitarnya.
Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi ketika menjelaskan pengaruh pengaliran Lumpur Sidoarjo ke Sungai Porong terhadap kondisi perairan dan biota air di sekitarnya.

SURABAYA (Lentera) - Dua dekade setelah semburan lumpur melanda wilayah Sidoarjo, dampak ekologisnya masih terus membekas pada ekosistem Sungai Porong dan kawasan sekitarnya. Perubahan kualitas air, rusaknya habitat biota, hingga bergesernya jenis ikan yang hidup di hilir sungai menjadi catatan penting perlunya pemantauan lingkungan berkelanjutan berbasis biomonitoring.

Pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan dari Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi, mengungkapkan selama 20 tahun terakhir Sungai Porong terus menerima aliran efluen lumpur dalam volume besar tanpa proses pengolahan. Kondisi tersebut memicu perubahan karakteristik perairan secara signifikan.

"Sedimentasi masif ini menyebabkan perubahan komposisi substrat secara nyata dan memengaruhi keseimbangan ekosistem perairan," ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Guru Besar ke-166 ITS itu menjelaskan material lumpur yang didominasi tanah liat lembut telah mengubah dasar sungai yang sebelumnya berupa pasir dan kerikil menjadi hamparan lumpur pekat. Dampaknya, tingkat kekeruhan air atau Total Suspended Solids (TSS) meningkat ekstrem di sepanjang aliran sungai.

Menurut Dewi, tingginya kandungan partikel lumpur di dalam air berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup biota air, khususnya ikan. Berdasarkan hasil analisis mikroskopik, partikel halus berukuran kurang dari 10 mikron ditemukan menempel dan menyumbat filamen insang ikan.

"Paparan tersebut memicu kerusakan jaringan insang seperti hiperplasia hingga nekrosis sel," jelasnya.

Tak hanya menyerang organ pernapasan, kontaminasi lumpur juga merusak struktur pelindung tubuh ikan. Melalui pengamatan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), ditemukan deformasi mikrostruktur sisik ikan akibat kerusakan pada sel penempel atau seferul.

"Akibatnya, sisik menjadi abnormal, mudah terlepas, dan meningkatkan risiko infeksi mikroorganisme," ucap Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS tersebut.

Meski tekanan ekologis berlangsung cukup berat, hasil biomonitoring juga menunjukkan adanya proses adaptasi alami di kawasan hilir Sungai Porong. Dewi menjelaskan bahwa spesies ikan lokal yang sensitif terhadap kekeruhan perlahan menghilang dan digantikan oleh spesies yang lebih toleran terhadap habitat berlumpur.

Saat ini, ekosistem hilir mulai didominasi ikan keting (Mystus gulio), belanak (Mugil cephalus), dan beloso (Saurida tumbil). "Pergantian komposisi spesies ini menjadi indikator penting terjadinya perubahan ekologis jangka panjang," tuturnya.

Sementara itu, untuk kawasan pertambakan di sekitar muara, Dewi menilai kondisinya masih relatif aman. Hal tersebut disebabkan adanya bentang daratan alami yang berfungsi sebagai penyaring mekanis material lumpur sebelum mencapai area tambak.

"Keberadaan penghalang alami ini membantu menjaga komoditas pangan masyarakat tetap higienis meskipun berada di sekitar wilayah terdampak," katanya.

Selain pencemaran air, kawasan semburan lumpur juga tercatat mengalami polusi udara akibat emisi gas yang mengandung metana dan belerang. Dari sisi kualitas air, hasil analisis kimia menunjukkan tingginya kandungan logam berat seperti aluminium dan besi yang melampaui baku mutu tertentu.

Menurut Dewi, logam aluminium berpotensi sangat berbahaya apabila tingkat keasaman air berubah menjadi lebih asam.

Melalui kajian komparatif antara wilayah hulu dan hilir Sungai Porong, tim peneliti ITS menemukan perbedaan kondisi ekologis yang sangat kontras. Wilayah hulu yang bebas lumpur memiliki kualitas habitat dan mutu air yang lebih stabil dengan kondisi biota yang sehat. Sebaliknya, kawasan hilir mengalami degradasi lingkungan cukup serius sehingga hanya spesies tertentu yang mampu bertahan hidup.

"Data biologis ini penting sebagai sistem peringatan dini dan dasar pengambilan kebijakan pemulihan lingkungan," tegasnya.

Dewi berharap hasil riset tersebut dapat menjadi referensi strategis bagi pemerintah dalam menyusun langkah mitigasi dan pemulihan kawasan terdampak secara berkelanjutan. "Terlebih, Sungai Porong merupakan salah satu sumber air penting bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya," tutupnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.