01 June 2026

Get In Touch

Pemkot Batu Butuh 10 Dump Truck Baru untuk Suplai Puluhan Ton Sampah ke PSEL

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Dian Fachroni saat berada di TPA Tlekung, Kota Batu. (foto: dlh_kotabatu)
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Dian Fachroni saat berada di TPA Tlekung, Kota Batu. (foto: dlh_kotabatu)

BATU (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu membutuhkan sedikitnya 10 unit dump truck baru, untuk menyuplai puluhan ton sampah ke fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Aglomerasi Malang Raya.

"Kalau Kota Batu, kami memang tidak bisa menjanjikan untuk menyumbangkan sampah dalam jumlah besar melalui program PSEL ini. Hanya sekitar 38,09 ton per hari," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, Senin (1/6/2026).

Dijelaskannya, sampah yang berpotensi dikirim ke PSEL berasal dari sektor usaha hotel, restoran, kafe, dan katering (horeka). Jenis sampah yang akan disalurkan pun bukan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi, melainkan sampah anorganik non-ekonomis dan residu yang sulit diolah melalui sistem pengelolaan eksisting saat ini.

Dalam hal ini, Dian mengakui salah satu tantangan yang ada di depan mata, yakni kebutuhan armada pengangkut sampah untuk mendistribusikan sampah dari Kota Batu menuju lokasi PSEL yang kemungkinan besar berada di wilayah Kabupaten Malang.

Menurutnya, kapasitas ideal satu unit dump truck pengangkut sampah berkisar 4 hingga 5 ton dalam sekali perjalanan. 

Dengan asumsi, Kota Batu mengirimkan antara 38 ton hingga 50 ton sampah setiap hari, maka dibutuhkan sedikitnya 10 unit dump truck tambahan agar distribusi sampah dapat berjalan efektif.

"Setidaknya kami harus memiliki 10 dump truck baru untuk bisa menyuplai sampah ke PSEL," ungkapnya.

Kebutuhan tersebut dinilai cukup berat bagi pemerintah daerah, selain membutuhkan investasi armada baru. Faktor jarak dan luas wilayah Kabupaten Malang, juga menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan operasional pengiriman sampah nantinya.

Dian menyebut, hingga saat ini lokasi pasti pembangunan PSEL belum ditetapkan. Namun yang jelas, menurutnya, sangat kecil kemungkinan satu armada dapat melakukan lebih dari 1 kali ritasi dalam sehari apabila jarak tempuh menuju lokasi cukup jauh.

"Tidak mungkin dalam satu hari satu unit dump truck melakukan dua kali ritasi. Karena itu kami harus benar-benar menghitung kebutuhan armada dan pembiayaannya," tegasnya.

Lebih lanjut, Dian memastikan, pengadaan 10 unit dump truck baru belum memungkinkan untuk dianggarkan dalam waktu dekat. Hal itu lantaran proyek PSEL sendiri masih membutuhkan waktu panjang hingga benar-benar beroperasi.

Berdasarkan proyeksi yang diterima pemerintah daerah, proses lelang proyek PSEL diperkirakan paling cepat dapat dilakukan pada tahun 2026 ini. Setelah itu akan dilanjutkan dengan tahapan pembangunan pada 2027 hingga 2028, sebelum akhirnya mulai beroperasi sekitar tahun 2029.

Dengan rentang waktu tersebut, Pemkot Batu menilai, masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan kebutuhan sarana pendukung, termasuk armada pengangkut sampah.

Selain mengandalkan anggaran daerah, pemerintah juga membuka peluang pendanaan melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari dunia usaha.

Pasalnya, sebagian besar sampah yang direncanakan menjadi pasokan PSEL berasal dari aktivitas sektor horeka yang selama ini berkontribusi terhadap timbulan sampah di Kota Batu.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.