Gagas Inovasi HepatoPatch, Mahasiswa Unair Ciptakan Skrining Dini Kanker Hati Berbasis Patch Kulit
SURABAYA (Lentera)– Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui inovasi di bidang kesehatan. Tim HepatoPatch berhasil meraih Juara I dalam National Biotechnology Essay Competition 2026 yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang pada 23 Mei 2026.
Melalui kompetisi tersebut, para mahasiswa ditantang untuk menghadirkan solusi berbasis bioteknologi terhadap berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
Tim yang terdiri dari Bayu Cahyo Bintoro dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Delsyad Muhammad Koosha Alzer dari Fakultas Farmasi (FF), dan Mohammad Aldi Nugroho dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) berhasil mengusung gagasan inovatif berupa HepatoPatch, yakni perangkat berbentuk patch atau tempelan kulit yang dirancang untuk membantu skrining dini kanker hati primer.
Kanker hati merupakan salah satu penyakit dengan tingkat kematian yang cukup tinggi di dunia. Salah satu penyebabnya adalah banyak kasus baru terdeteksi ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih kecil. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang penanganan yang lebih efektif.
Ketua tim, Bayu Cahyo Bintoro, menjelaskan bahwa ide HepatoPatch lahir dari kebutuhan akan metode skrining yang lebih mudah diakses masyarakat dan minim tindakan invasif.
“Pemeriksaan kanker hati yang umum digunakan saat ini masih memiliki keterbatasan, terutama dalam mendeteksi kasus stadium awal. Karena itu, kami merancang pendekatan yang lebih mudah diakses, minimal invasif, dan memanfaatkan kombinasi biomarker agar skrining dini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Menurut Aldi, HepatoPatch bekerja dengan cara ditempelkan pada permukaan kulit untuk mengambil cairan interstisial, yakni cairan yang berada di antara sel-sel tubuh. Cairan tersebut mengandung biomarker atau penanda biologis yang dapat memberikan informasi mengenai kondisi kesehatan seseorang.
“Biomarker yang terdeteksi kemudian dianalisis melalui sistem biosensor dan diolah menggunakan aplikasi digital untuk menghasilkan skor risiko hepatocellular carcinoma (HCC), yaitu jenis kanker hati primer yang paling sering ditemukan,” jelasnya.
Meski demikian, HepatoPatch masih berupa konsep inovasi yang membutuhkan berbagai tahapan penelitian lanjutan sebelum dapat digunakan secara luas. Mulai dari validasi laboratorium, pengujian klinis pada manusia, hingga perizinan dari regulator kesehatan.
Delsyad mengungkapkan tantangan terbesar dalam penyusunan karya ilmiah tersebut adalah memastikan seluruh komponen sistem dapat bekerja secara terintegrasi dan memiliki dasar ilmiah yang kuat.
“Kami harus menyusun alur mulai dari pengambilan sampel, deteksi biomarker, hingga analisis data secara menyeluruh. Tantangannya bukan hanya membuat inovasi yang canggih, tetapi juga realistis untuk diterapkan di masa depan,” katanya.
Bayu menambahkan, apabila berhasil dikembangkan dan lolos berbagai tahapan pengujian, HepatoPatch dapat menjadi alat bantu skrining bagi kelompok berisiko tinggi, seperti penderita hepatitis kronis atau sirosis hati. Namun, alat tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis yang dilakukan dokter.
“Inovasi ini ditujukan sebagai alat skrining awal untuk membantu identifikasi risiko. Diagnosis dan penentuan terapi tetap harus dilakukan oleh tenaga medis melalui pemeriksaan yang sesuai,” tegasnya.
Melalui prestasi tersebut, tim HepatoPatch juga mengajak mahasiswa untuk berani terlibat dalam riset dan kompetisi ilmiah. Menurut mereka, inovasi lahir dari kemampuan memahami masalah yang ada di masyarakat dan menyusun solusi secara bertahap berdasarkan ilmu pengetahuan.
“Kompetisi bukan hanya tentang meraih kemenangan, tetapi juga melatih cara berpikir sistematis dalam mencari solusi atas berbagai persoalan kesehatan yang nyata,” pungkasnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH








