Cerita dari Sekolah Rakyat: Lukisan Putri Tukang Ojek di Kota Malang Dibeli KSP Dudung Rp1 Juta
MALANG (Lentera) - Kanvas bergambar Istana Negara menjadi saksi, lahirnya cerita dari Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang. Di balik lukisan itu, ada Hilyatul Mila (14), putri seorang pengemudi ojek yang mengerjakannya dengan penuh ketekunan sejak malam hari.
Karya tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman yang membelinya seharga Rp1 juta.
"Perasaannya senang karena lukisan saya sudah dibeli oleh Pak KSP," ujar Mila singkat, Jumat (12/6/2026).
Ketertarikan Mila terhadap dunia seni bukanlah sesuatu yang baru. Ia mengaku memang menyukai aktivitas melukis sejak lama. Saat mengetahui akan ada kunjungan dari pusat ke SRMP 16 Kota Malang, ia langsung memiliki ide untuk menggambarkan Istana Negara sebagai objek utama.
Proses pembuatan lukisan tersebut pun berlangsung cukup singkat. Mila mengerjakannya, sejak malam hari hingga selesai pada keesokan harinya tanpa mengalami kendala berarti.
Lukisan Istana Negara, ternyata bukan karya pertama yang dihasilkan Mila. Sebelumnya, ia mengaku pernah membuat lukisan kaligrafi yang kini dipajang di lingkungan sekolah.
Prestasi di bidang seni juga bukan hal asing baginya. Karena semasa duduk di bangku sekolah dasar hingga di Sekolah Rakyat ini, Mila pernah mengikuti berbagai perlombaan dan berhasil meraih juara.
Meski memiliki bakat melukis yang menonjol, Mila ternyata tidak bercita-cita menjadi pelukis profesional. Ia justru menyimpan impian sederhana namun mulia, yakni menjadi seorang guru.
Siswi asal Balearjosari, Kota Malang, itu juga menceritakan latar belakang keluarganya. Ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek, sementara sang ibu mencari nafkah dengan membersihkan rumah milik orang lain. Kondisi tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan bakat yang dimiliki.
Selama menempuh pendidikan di SRMP 16 Kota Malang, Mila mengaku merasa nyaman tinggal di asrama dan menikmati lingkungan belajar yang mendukung perkembangan dirinya.
"Saya senang. Saya juga kerasan tinggal di asrama. Lingkungannya baik," tuturnya.
Sementara itu, Kepala KSP, Dudung Abdurachman mengaku, tertarik membeli lukisan tersebut bukan semata karena kualitas gambarnya, melainkan juga makna yang terkandung di dalamnya.
Menurut Dudung, pilihan Mila untuk melukis Istana Negara lengkap dengan tiang bendera Merah Putih di bagian depan menunjukkan adanya semangat nasionalisme yang tumbuh dalam diri seorang anak.
"Saya pikir ini bukan sekadar lukisannya, tetapi yang dilukis adalah Istana Negara, lengkap dengan tiang bendera Merah Putih di depannya. Artinya anak ini sudah mempunyai jiwa juang, jiwa rela berkorban," ujarnya.
Dudung mengatakan, dirinya sengaja membeli lukisan itu seharga Rp1 juta sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan semangat berkarya yang dimiliki Mila.
Ia bahkan, telah merencanakan, untuk memajang lukisan tersebut di rumah atau di ruang kerjanya. Menurutnya, karya tersebut layak diperlihatkan kepada banyak orang, termasuk Presiden, sebagai bukti anak-anak di Sekolah Rakyat memiliki potensi besar jika mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
"Kalau perlu nanti saya tawarkan ke Pak Presiden, siapa tahu lebih banyak yang membeli," katanya.
Di sisi lain, Kepala SRMP 16 Kota Malang, Rida Afrilyasanti menjelaskan kemampuan Mila merupakan hasil dari minat yang terus difasilitasi sekolah, melalui berbagai kegiatan pengasuhan dan ekstrakurikuler.
Di lingkungan Sekolah Rakyat, kata Rida, tersedia kegiatan melukis bagi peserta didik yang memiliki ketertarikan di bidang seni sehingga mereka mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan bakatnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





