15 June 2026

Get In Touch

Dari Sulit Beradaptasi hingga Punya Mimpi, Ini Perkembangan 92 Siswa Sekolah Rakyat Kota Malang

Puluhan siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang bersama Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman pada Jumat (12/6/2026). (Santi/Lentera)
Puluhan siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang bersama Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman pada Jumat (12/6/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Berawal dari kesulitan beradaptasi dengan kehidupan yang serba terjadwal, kini 92 siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang telah mulai berani menggantungkan cita-cita untuk meraih mimpi.

Kepala SRMP 16 Kota Malang, Rida Afrilyasanti, mengatakan tahun ajaran 2026/2027 akan menjadi tahun kedua bagi seluruh siswa angkatan pertama. Sebanyak 92 siswa yang terdiri dari 41 laki-laki dan 51 perempuan akan melanjutkan pendidikan ke kelas II SMP dengan pendampingan yang tetap dilakukan secara menyeluruh.

"Anak-anak akan melanjutkan ke kelas II SMP. Kami terus mendampingi proses belajarnya," ujar Rida, dikutip pada Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, perubahan perilaku dan pola pikir siswa menjadi salah satu capaian yang paling terlihat selama kurang lebih 11 bulan pelaksanaan Sekolah Rakyat di Kota Malang. Jika pada awal masuk banyak siswa masih kesulitan mengikuti aktivitas yang terjadwal, kini mereka mulai terbiasa dengan ritme kehidupan di sekolah.

"Di awal memang anak-anak ada tantangan terkait adaptasinya. Sebelumnya kebiasaan di rumah cenderung bebas, sekarang di Sekolah Rakyat ada agenda yang terjadwal," jelasnya.

Namun, proses pendampingan yang dilakukan secara konsisten oleh guru, tenaga kependidikan, wali asuh, hingga wali asrama perlahan mampu membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan baru. Pola hidup yang lebih disiplin dinilai mulai membentuk karakter dan tanggung jawab para siswa.

Rida mengungkapkan, perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari kebiasaan belajar, tetapi juga dari cara pandang siswa terhadap masa depan. Anak-anak yang sebelumnya belum memiliki gambaran mengenai cita-cita kini mulai berani mengungkapkan impian mereka sekaligus memahami langkah yang perlu dilakukan untuk mencapainya.

"Mereka sudah mulai tumbuh keinginan untuk belajar dan memiliki cita-cita, tahu apa yang harus dilakukan untuk mewujudkannya, tidak hanya berani menyampaikan cita-citanya," katanya.

Upaya tersebut juga didukung dengan berbagai fasilitas yang diberikan oleh Kementerian Sosial. Selain pembelajaran di dalam kelas, siswa mendapatkan sarana hiburan, rekreasi, hingga kegiatan luar sekolah atau outing yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung.

Menurut Rida, pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sekaligus memperluas wawasan siswa melalui praktik di lapangan.

Di sisi lain, SRMP 16 Kota Malang dipastikan belum membuka penerimaan peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Rida menjelaskan, lokasi sekolah yang saat ini digunakan belum memungkinkan untuk menampung jumlah siswa yang lebih banyak sehingga pihaknya masih menunggu arahan terkait pembangunan Sekolah Rakyat permanen dengan kapasitas yang memadai.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito. Donny menyebut status Sekolah Rakyat di Kota Malang yang masih berupa sekolah rintisan menjadi alasan belum dibukanya penerimaan siswa baru.

"Karena kami ini sekolah rintisan makanya tidak membuka. Kecuali nanti ada gedung yang terbangun di Malang Raya, misalnya di Kabupaten Malang atau di Kota Batu," kata Donny.

Reporter: Santi Wahyu

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.