SURABAYA (Lentera) - Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) berhasil menyulap sejumlah bahan-bahan alami menjadi inovasi berupa pembalut luka. Melalui pemanfaatan pektin, maizena, dan ekstrak daun teh hijau, mereka merancang wound dressing yang diharapkan mampu membantu mencegah infeksi sekaligus mendukung proses penyembuhan luka.
Mereka adalah Abdullah Imam Abdul Rahman dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKP), Desiva Frisillia Afanty dari Fakultas Farmasi (FF), Alya Nur Azizah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), M Zain Hisyam Al Fikri Zuhdi dari FKP, serta Fisti Nisa Nur Azizah dari Fakultas Kedokteran (FK).
Lewat penelitian berjudul Film Hidrokoloid Inovatif Berbasis Pektin Maizena dan Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) untuk Wound Dressing Applications, mereka meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Riset Eksakta (RE) 2026.
Salah satu anggota tim, Abdullah menjelaskan, penelitian tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan alternatif wound dressing yang lebih berkelanjutan. Ide itu muncul setelah tim melihat potensi pengembangan material hidrokoloid yang selama ini banyak digunakan sebagai pelapis makanan.
"Kami ingin mencari solusi bahan alternatif wound dressing untuk mewujudkan greener and better healthcare for the future. Meski sempat ragu karena topik yang kami angkat tidak terlalu mengikuti tren penelitian sebelumnya, kami yakin inovasi ini dapat menjadi pengembangan yang kuat bagi dunia kesehatan, khususnya penyembuhan luka," ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Dalam penelitian tersebut, tim mengombinasikan pektin dan maizena sebagai biopolimer alami dengan ekstrak daun teh hijau yang memiliki sifat regeneratif. Berbagai pengujian dilakukan untuk memastikan kualitas formulasi yang dihasilkan.
Menurut Abdullah, formulasi yang telah dibuat terlebih dahulu diperiksa strukturnya menggunakan metode Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Setelah itu dilakukan uji kekuatan tarik, kemampuan menyerap air, hingga profil pelepasan bahan aktif.
"Selanjutnya formulasi akan diuji secara in vivo dan dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk melihat efektivitas wound dressing terhadap proses penyembuhan luka," jelasnya.
Meski demikian, perjalanan penelitian tidak sepenuhnya berjalan mulus. Tim menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pengadaan bahan, pengurusan laboratorium, hingga pelaksanaan uji eksternal. Selain itu, proses penyusunan formulasi hidrokoloid juga masih membutuhkan banyak percobaan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Abdullah berharap penelitian tersebut dapat menjadi bukti awal yang membuka peluang pengembangan lebih lanjut, bahkan berpotensi menjadi produk inovatif di bidang kesehatan.
"Harapannya penelitian ini bisa menjadi preliminary evidence, berkembang menjadi sebuah startup, dan menginspirasi peneliti lain untuk terus mengembangkan inovasi di bidang kesehatan," pungkasnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi





