19 June 2026

Get In Touch

Seputar Cerita Iran Ditawari "Uang Damai"...

Pengendara melintas di dekat papan reklame politik besar di kawasan Lapangan Enghelab, Teheran, Iran, Selasa (26/5/2026) - AFP
Pengendara melintas di dekat papan reklame politik besar di kawasan Lapangan Enghelab, Teheran, Iran, Selasa (26/5/2026) - AFP

DUBAI (Lentera) -Detail kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran belum terungkap secara resmi. Namun, Teheran kemungkinan menerima ”uang damai” dalam bentuk akses ke dana investasi swasta sebesar 300 miliar dolar AS atau setara Rp 5.324 triliun.

Menurut seorang sumber kepada Reuters edisi Rabu (17/6/2026), kesepakatan atas Dana Rekonstruksi dan Pembangunan tertera dalam perjanjian kerangka kerja AS-Iran. Dana swasta sebesar 300 miliar dolar AS itu dibentuk dengan tujuan untuk memicu investasi ke Iran.

”Dana tersebut dirancang untuk memberikan insentif ekonomi kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan kesepakatan akhir,” kata sumber yang berbicara dengan syarat anonim.

AS dan Iran, dengan Pakistan sebagai mediator, mengumumkan kesepakatan damai pada Senin (15/6/2026) yang mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. Washington dan Teheran akan menandatangani nota kesepahaman pada 19 Juni 2026 di Swiss.

Dokumen ini diproyeksikan memberi waktu tambahan 60 hari agar kedua pihak mendiskusikan isu-isu yang masih mengganjal, termasuk program nuklir Iran.

Menurut sumber itu, pembahasan dana investasi terpisah dari jalur negosiasi mengenai pencabutan sanksi AS dan pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Dana juga tidak akan dibuat sampai kesepakatan damai permanen antara AS dan Iran ditandatangani.

”Selama 60 hari, administrator dana akan bekerja sama dengan pihak Iran dan investor untuk menentukan ruang lingkup proyek,” ujar sumber itu.

Lebih dari setengah jumlah dana itu telah dijanjikan oleh para investor atau perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS, Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Dari Asia, perusahaan yang sudah menyatakan ketertarikan berasal dari Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Malaysia.

”Investasi yang dijanjikan mencakup energi, logistik, manufaktur, dan transportasi,” tutur sumber itu.

Sumber Reuters tidak mengatakan bagaimana pengelolaan dana tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran dan Kemenlu Pakistan tidak segera menjawab permintaan komentar.

Pada Selasa, seperti dilaporkan Al Jazeera, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menolak berkomentar tentang dana 300 miliar dolar AS itu untuk rekonstruksi.

Perang AS-Israel terhadap Iran menimbulkan kerugian sekitar 29 miliar dolar AS bagi Teheran. Kesepakatan atas dana akan membuka pintu investasi asing ke Iran.

Sebagai salah satu ekonomi terbesar di Timur Tengah, Iran hampir tidak menarik investasi asing langsung yang signifikan dalam empat dekade terakhir akibat gelombang sanksi AS dan internasional. Namun, Iran mampu bertahan karena memiliki aset dalam negeri yang kuat, yaitu cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia.

Iran juga mempunyai populasi muda berpendidikan lebih dari 92 juta orang. Potensi bisnis di Iran belum banyak tergali, mulai dari petrokimia, pertambangan, pertanian, hingga pariwisata.

Bukan kompensasi

Sumber Reuters itu menegaskan, dana tersebut adalah investasi swasta, bukan program rekonstruksi atau reparasi akibat perang. Selain itu, dana tidak akan mencakup uang atau hibah pemerintah.

Seorang sumber senior Iran dikutip dari Kompas, Teheran awalnya meminta kompensasi atas kerusakan perang dari AS sebesar 400 miliar dolar AS. Namun, Washington tidak bersedia. Oleh sebab itu, gagasan untuk Dana Rekonstruksi dan Pembangunan kemudian muncul.

”Mekanisme itu memungkinkan negara-negara regional berkontribusi dengan berbagai cara. Hal ini termasuk menyediakan pinjaman, membangun jalur kredit, atau membiayai langsung rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat perang, termasuk fasilitas seperti kompleks baja Mobarakeh, kilang minyak, dan bandara,” ujar sumber Iran tersebut (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.